Perlu Uji Balistik di Kasus Pasuruan

Perlu Uji Balistik di Kasus Pasuruan

- detikNews
Jumat, 15 Jun 2007 02:08 WIB
Jakarta - Guna membuktikan kebenaran, apakah 4 warga Pasuruan tewas ditembak secara langsung atau pantulan oleh pasukan Marinir, perlu pembuktian secara ilmiah. Salah satu caranya dengan uji balistik terhadap senjata dan pelurunya."Ini memang sulit, ditembak langsung atau ricochet (pantulan). Ricochet ini juga tergantung kondisi, tekstur tanahnya dan jatuhnya peluru. Makanya perlu uji balistik dalam, balistik luar dan balistik akhir," kata ahli balistik dari Universitas Gadjah Mada Widodo Hardjoprawito dalam jumpa pers di kantor Kontras, Jl Borobudur, Menteng, Jakarta Pusat, Kamis (14/6/2007).Menurut Widodo, uji balistik dalam guna mengetahui gerakan atau putaran peluru di dalam laras senjata api akibat pengaruh desakan gas. Tahap balistik dalam ini ada tiga periode, yaitu pertama menguji saat peluru bergerak dan berakhir saat pembakaran bahan pendorong selesai.Kedua, saat peluru meninggalkan ujung laras dan ketiga, saat peluru meninggalkan laras dan berakhir pada jarak 50 meter dari ujung laras. Dalam periode ini tekanan akan semakin mengecil namun kecepatannya terus bertambah hingga jarak maksimalnya hingga ratusan meter.Sementara balistik luar, guna mengetahui saat peluru keluar dari larasnya hingga mengenai sasarannya. Sedangkan balistik akhir adalah untuk mengetahui saat peluru masuk ke dalam sasaran atau tubuh manusia."Jadi untuk melihat apakah itu ricochet atau bukan, harus dilihat dari luka tembak itu sendiri. Apakah proyektil peluru pecah di luar atau di dalam tubuh," jelas Widodo.Dijelaskan Widodo, peluru yang digunakan militer saat ini biasanya digunakan untuk senjata Fabrique Nationale Carabine (FNC) dari Belgia, Pindad seperti SSI (Indonesia) dan AK (Rusia). Tapi peluru ini juga bisa digunakan senjata jenis Carabine Automatique Legere (CAL), buatan AS, yang beratnya lebih ringan.Peluru senjata FNC seperti SS1 yang biasa digunakan TNI merupakan peluru berkaliber 5,56 x 45 milimeter. Peluru ini merupakan peluru yang standar militer NATO. Peluru ini beratnya sekitar 3 gram sampai 4 gram dengan panjang 1,62 inci."Biasanya peluru yang lebih berat itu biasanya lebih stabil ketika membentur benda keras, seperti tulang manusia dan benda lainnya. Tapi kalau dilihat kasat mata memang tidak ada bedanya, dan kalau ditembakkan tidak ketahuan perbedaannya," ujar Widodo yang mantan pelatih di Akademi Militer Bolivia ini.Kestabilan peluru ini ada dua jalan, yaitu melalui putarannya (stabilizer herocope) atau putaran sayap (stabilizer aerodinamic) seperti halnya pada rudal dan roket. Putaran peluru dalam laras juga bisa mempengaruhi pecah atau tidaknya peluru saat ditembakan.Contohnya bila peluru yang seharusnya memerlukan 12 putaran di dalam laras suatu senjata, tapi ketika ditembakkan melalui senjata yang memiliki 7 putaran, maka selongsong peluru atau jaket peluru bisa retak."Bila kena sasaran bisa robek atau proyektilnya akan pecah tersebar di dalam tubuh," terang Widodo yang pensiunan penasehat Panglima Angkatan Darat Bolivia berpangkat Letnan ini.Widodo juga menerangkan, jenis dan kontur tanah juga menentukan untuk tembakan pantulan atau tidak. Pantulan akan dimungkinkan bila peluru mengenai tanah yang lebih keras atau bebatuan."Tanah itu lucu sifatnya, jadi uji balistik dan rekontruksi itu harus ditempat yang sama guna membuktikan pantulan atau tembakan langsung. Tidak bisa di tempat lain," katanya.Selain itu posisi korban juga akan menentukan arah dan ketinggian tembakan, apakah tembakan lurus, langsung atau bukan. "Ini juga untuk membuktikan apakah ada penembak lainnya selain anggota Marinir tersebut," imbuhnya. (zal/aba)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads