1 Tahun untuk Singapura Pahami DCA

1 Tahun untuk Singapura Pahami DCA

- detikNews
Jumat, 15 Jun 2007 01:20 WIB
Jakarta - Pemerintah Indonesia akan memberi waktu kepada Singapura hingga akhir tahun 2007 ini untuk memahami dan mendalami perjanjian pertahanan Defence Cooperation Agreement (DCA). Untuk itu, pemerintah Indonesia dan Singapura tidak perlu memutuskan soal perjanjian ini secara terburu-buru.Demikian diungkapkan Sekjen Dephan Letjen TNI Sjafrie Sjamsuddin di kantor Departemen Pertahanan, Jl Medan Merdeka Barat, Jakarta, Kamis (14/6/2007)."Kita akan bicara satu level. Jadi pengaturan (daerah Bravo) tidak bisa sepihak dan mendominasi, pengaturan itu harus paralel dan sinkron. Tentunya perbedaan pemahaman itulah yang harus dicari titik temunya. Untuk itu kita beri waktu sampai akhir tahun untuk memahami dan mendalaminya," kata Sjafrie. Untuk itu Indonesia, sesuai pernyataan Menhan Juwono Sudarsono, akan memberikan waktu sampai akhir tahun ini kepada Singapura untuk mempelajari kembali isi DCA."Jadi kita tidak usah terlalu mengejat-ngejar, juga tidak usah terlalu terburu-buru. Kita harus konsisten kepada sikap dasar kita, terutama yang mengatur hal-hal yang bersifat operasional," jelas Sjafrie.Sjafrie menerangkan, perjanjian DCA ini merupakan governing body yang harus diikuti dengan beberapa aturan pelaksana di lapangan, khususnya untuk daerah latihan Bravo. "Yang namanya cooperation kan harus mutual atau sama-sama," jelasnya.Sebenarnya menurut Sjafrie, pengaturan yang bersifat operasional ini sudah memberikan manfaat yang besar bagi Singapura. Sehingga tidak ada alasan Singapura untuk menolak atau mengatur sendiri. Bila tidak ada aturan tentang kesepakatan ini tentunya kerjasama atau latihan bersama ini akan sulit dilakukan."Ya susah, tidak ada SOP, tidak ada prosedur, tidak ada yang menjadi pegangan di lapangan. Itu kan aturan-aturan implementasi bukan aturan politik," ucapnya.Oleh sebab itu, pemerintah tidak ingin Singapura hanya menjadikan DCA yang telah ditandatangani sebagai satu-satunya dasar kerjasama latihan tersebut dalam suatu kegiatan. Indonesia, menurut Sjafrie, akan fully control dalam mengendalikan wilayah latihan yang akan digunakan Singapura, karena harus mempertanggungjawabkan sepenuhnya area tersebut.Ketika ditanya kalau Singapura tetap keberatan, Sjafrie hanya mengatakan itu tidak masalah bagi Indonesia. Bila justru Singapura membatalkan semua perjanjian?"Hmm... He... He... He..." jawabnya sambil mengangguk-anggukkan kepala. (zal/aba)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads