SBY: Lebih Berat Baca Puisi dari pada Pidato
Kamis, 14 Jun 2007 23:04 WIB
Jakarta - Presiden SBY dikenal pandai berpidato. Berbicara di podium paling jago. Namun kalau membaca puisi, SBY harus mengaku grogi."Ini lebih berat dari pada membaca pidato kenegaraan," ujar SBY disambut tawa hadirin yang hadir di 'Parade Puisi Kebangsaan Meniti Jejak Republik' di Blitz Megaplex, Jakarta, Kamis (14/6/2007).Pantas SBY merasa grogi. Di hadapannya berdiri para maestro penyair dan seniman Indonesia seperti Sutardji Calzoum Bahri, Putu Wijaya, dan Butet Kertaredjasa.SBY sempat membawa buku kumpulan puisinya 'Taman Kehidupan', namun akhirnya SBY menutup bukunya. SBY memutuskan membawakan puisi secara spontan, yang tidak terdapat di buku."Saya hanya seorang penyair amatir yang ingin mengekspresikan SBY yang kadang-kadang sedih, kesal, rindu dan ingin berbicara pada masyarakat dan alam semesta," ujar SBY memberi intro.SBY lalu berdeklamasi. Terbanglah wahai kebebasanBersama angin dan burung-burung camar di langit biruyang melambai dan terus melantunkan dendang dan salam rindu.Itulah bait pertama puisinya. Ketika selesai membaca semua baitnya, tepuk tangan pun membahana. Inilah presiden yang penyair.
(aba/aba)











































