Pekerja Pontianak di Riau (1)
5 Bulan Kerja Tanpa Gaji
Kamis, 14 Jun 2007 15:28 WIB
Jakarta - Nasib apes menimpa 20 orang asal Kabupaten Pontianak, Kalimantan Barat yang bekerja di areal Hutan Tanaman Industri milik PT Arara Abadi Sinar Mas Group di Riau. Selama bekerja mereka tidak menerima gaji. Niat hati ingin mencari kehidupan yang lebih enak di Riau. Itu sebabnya, sekitar 260 orang asal Kabupaten Sambas dan Pontianak mengadu nasib ke Bumi Lancang Kuning. Mereka bekerja sebagai buruh harian untuk menebang sekaligus memanggul kayu HTI milik perusahaan Sinar Mas Group. Mereka bekerja di sub Kontraktor, PT Nuansa Pertiwi. "Tapi sejak kami berkerja, kami belum pernah terima gaji. Kami hanya diberi makan dan tidur ditenda darurat selama lima bulan. Anehnya kami malah dianggap memiliki hutang ke pihak perusahaan yang mempekerjakan kami PT Nuansa Pertiwi," kata Ahmad Arsadi (54) kepada detikcom, Kamis (14/6/2007) di Bandar Sultan Syarif Kasim II Pekanbaru. Sebelumnya para pekerja ini dijanjikan pihak perusahaan, akan menerima gaji Rp 3 juta per bulan. Dengan iming-iming inilah, para perkerja asal Kalbar ini berminat ingin mengubah nasib mereka di rantau orang. "Kami yang bekerja asal Kalbar lebih kurang sekitar 260 orang. Ini berasal dari dua kabupaten yakni Kabupaten Sambas dan Kabupaten Pontianak. Namun asal Pontianak hanya sekitar 30 orang," terang Ahmad. Selama bekerja sebagai buruh kasar, kata Ahmad mereka memiliki pekerjaan sebagai penebang sekaligus memanggul kayu di areal HTI jenis akasia. Janji menerima gaji besar yang diperkirakan dapat mengirim uang untuk anak istri mereka ternyata hanya isapan jempol belaka. Rupanya mereka bekerja berdasarkan hasil borongan. Para pekerja ini diberi upah berdasarkan hasil kumpulkan kayu akasia. Setiap kubiknya (satu kubik jumlahnya ratusan batang) mereka menerima upah Rp 28 ribu. "Mana mungkin kami sanggup mengumpulkan kayu hingga satu kubik. Apa lagi kayu mesti kami kumpulkan di satu tempat jaraknya rata-rata di atas 200 meter dari pohon yang kami tebang. Kami paling banyak menerima upah setelah seharian bekerja Rp 11 ribu atau tak sampai stengah kubik kayu yang bias kami kumpulkan," kata Ahmad. Dengan upah hanya Rp 11 ribu per hari, akhirnya seluruh pekerja ini dianggap memiliki hutang ke PT Nuansa Pertiwi Kontraktor PT Arara Abadi. Hutang itu berdasarkan hitungan beras yang diberikan pekerja dengan harga Rp 4.500/kg. "Upah yang kami terima tidak cukup untuk biaya makan kami," keluh Ahmad.
(cha/djo)











































