Tata Suara Pembangun Imajinasi

Ketika Tunanetra Menonton Ketika (2)

Tata Suara Pembangun Imajinasi

- detikNews
Kamis, 14 Jun 2007 14:44 WIB
Tata Suara Pembangun Imajinasi
Jakarta - Ternyata, tak hanya tambahan narasi yang membantu tunanetra memahami film tersebut. Teknologi tata suara stereo yang diimplementasikan dalam film Ketika juga berperan penting membangun imajinasi tunanetra. Contohnya, saat salah seorang tokoh berbicara dan posisinya ada di kiri layar, maka suaranya hanya akan terdengar di sisi kiri. Penulis pun dapat membayangkan betapa ngerinya melakukan bunuh diri dengan melompat dari gedung tinggi, karena suara teriakan yang tiba-tiba mengeras dan suara "bruk" yang begitu terasa (menurut rekan penulis, visualisasinya adalah kamera yang menghadap ke atas gedung dan si pelaku bunuh diri melompat dan jatuh menutupi layar).Masih mengenai audio, efek-efek suara dalam film ini terdengar jelas dan mantap. Suara kertas tersobek, rerumputan terinjak, atau sapi yang melenguh menjadi faktor pelengkap nikmatnya nonton film yang sudah "ideal" bagi tunanetra.Puas 90%!Usai pemutaran film Ketika, pihak panitia menggelar apresiasi film yang baru saja dinikmati. Saat diberi kesempatan untuk bertanya dan mengemukakan pendapat, penonton tunanetra sangat antusias memberikan komentar dan saran-sarannya.Aris misalnya, berharap agar pihak perfilman Indonesia mulai mengimplementasikan teknologi asistif yang mengakomodasi narasi dan tata suara khusus dalam setiap keping VCD/DVD film yang digelontorkan ke pasaran. "Sediakan saja menu khusus, jadi kalau tunanetra beli film, mereka bisa mengaktifkan menu itu untuk menambah narasi dan tata suara khusus dalam filmnya." Salah seorang tunanetra lain, Made Adi Gunawan, bahkan menantang panitia untuk menggelar acara serupa dan mengajak penonton berpenglihatan untuk menyaksikannya dengan menutup mata. Tantangan itu pun disambut hangat oleh Mustaf Yasin, penulis skenario film Ketika, yang ternyata menutup matanya saat menonton film tersebut.Bagi penulis, sesi "Nonton Film Bareng Tunanetra" siang itu merupakan pengalaman menikmati sebuah karya seni (dalam hal ini film) yang betul-betul unik dan kreatif. Sebelumnya, penulis pernah menyaksikan film Ketika versi orisinal (sebelum adaptasi) dan mengira telah memahami cerita secara keseluruhan. Ternyata, penulis baru dapat menikmatinya hingga 90% ketika teknik narasi dan teknologi tata suara menyambangi film ini.Berdasarkan pengalaman tersebut, penulis berasumsi bahwa film akan menjadi salah satu hiburan utama bagi tunanetra, tentu saja bila film-film tersebut telah dirancang sedemikian rupa sehingga ideal, tak hanya bagi tunanetra, tapi juga bagi mereka yang berpenglihatan.Peran serta IT, seperti yang telah didemonstrasikan di atas, juga merupakan salah satu elemen yang patut diperhitungkan dalam menciptakan tontonan yang asistif. Di sini, penulis menekankan pada teknologi tata suara, mengingat suara adalah elemen penghantar informasi yang posisinya menggantikan mata tunanetra. Selebihnya, penulis dan barangkali rekan-rekan tunanetra lain, menanti respons pihak-pihak terkait, dalam hal ini seniman dan insan perfilman Indonesia untuk melahirkan film-film serupa di masa yang akan datang. Bagaimana kelanjutannya? Kita tunggu bersama! Foto:1. Suasana menonton Ketika (Dikhy S/detikcom)2. Foto penulis1) (nrl/nrl)


Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads