Ketika Tunanetra Menonton Ketika (1)
Narasi Film yang Bikin Terbahak
Kamis, 14 Jun 2007 14:11 WIB
Jakarta - Pembaca, mungkin Anda adalah salah satu pengunjung acara "Nonton Film Bareng Tunanetra" yang digelar di Goethe Institute, Menteng, Jakarta, Rabu (13/6/2007). Film yang diputar berjudul Ketika dan dibintangi Dedi Mizwar dkk.Sekitar 100 orang tunanetra hadir untuk "mendengarkan" film yang diadaptasi secara khusus, sehingga dapat dinikmati oleh mereka yang hilang fungsi penglihatannya, atau Anda yang coba-coba nonton sambil memejamkan mata. Sajian langka ini - sudah barang tentu - menjadi ulasan hangat wartawan yang ikut menghadiri acara tersebut. Bedanya, lewat artikel ini, Anda dapat menyimak lebih dalam pengalaman rekan-rekan dan penulis (tunanetra-red), yang mengaku dapat menikmati tontonan tersebut hingga 90%! Seperti apa?Menonton film di bioskop atau TV ternyata tak hanya dilakukan oleh orang berpenglihatan. Berdasarkan survei yang penulis lakukan terhadap puluhan pengunjung tunanetra yang memadati ruangan Goethe Hall siang itu, sebagian besar dari mereka mengaku gemar "mendengarkan" sinetron atau film yang diputar oleh stasiun TV. Beberapa di antara mereka bahkan ada yang pergi ke bioskop untuk menikmati film-film yang baru rilis. Masalahnya, karena keterbatasan penglihatan yang dimiliki, tunanetra hanya dapat menikmati audio (suara) dari film yang ditontonnya, atau terpaksa menterjemahkan sendiri film asing yang teks terjemahannya tentu saja tak dapat terbaca. Unsur-unsur visual seperti latar, suasana, dan adegan pun tak dapat dinikmati. Jadi, seperti halnya tunarungu yang membutuhkan penterjemah via bahasa tubuh (biasanya muncul di pojok bawah layar TV), tunanetra pun membutuhkan film yang dilengkapi penjelasan mengenai unsur visual yang tak dapat dinikmati oleh penglihatan mereka. Sebagai contoh, penulis akan memberi pengalaman saat menyaksikan salah satu film adaptasi yang diputar siang itu, berjudul Ketika. Film ini telah dilengkapi narasi, yaitu tambahan rekaman seorang pengisi suara yang membacakan tulisan-tulisan penting yang muncul di film, serta menggambarkan adegan dan suasana saat film diputar."Film ini berjudul Ketika, sutradara oleh Dedi Mizwar." Terdengar suara narator, yang dibarengi munculnya teks di layar (informasi munculnya teks berasal dari rekan penulis yang berpenglihatan).Seolah dapat melihat gambar yang muncul di layar, penonton tunanetra sesekali menimpali adegan lucu yang dideskripsikan, bahkan sampai tertawa terpingkal-pingkal. Suara tawa penulis ternyata tak dapat mengalahkan puluhan tunanetra lain yang ikut meledak tawanya saat narator mendeskripsikan adegan-adegan dalam film komedi ini, seperti "Petugas tengah menghitung harga BH Bu Tajir", "Icang dan Mutiara tengah berduaan memeras susu sapi," atau "Kedua konglomerat itu saling mempersilakan untuk lebih dahulu bunuh diri."Biasanya, sebuah film akan menampilkan adegan flashback yang ditandai dengan kilatan cahaya singkat di layar, atau gambar yang menjadi hitam putih. Tentu saja tunanetra tak dapat membedakan adegan tersebut. Namun, di film ini narator telah memberi penjelasan seperti "adegan flashback" atau "kembali ke masa kini" untuk menandai perubahan alur cerita, diiringi dengan penanda berupa suara.Fotografer: Dikhy Sasra/detikcom
(nrl/nrl)











































