Memalukan! Australia Tahu Lebih Dulu Penangkapan Abu Dujana
Kamis, 14 Jun 2007 11:29 WIB
Jakarta -
Sikap tertutup Polri dalam penangkapan Abu Dujana mendapat kritik keras pengamat intelijen AC Manullang. Apalagi kabar penangkapan Abu justru diungkapkan Menlu Australia Alexander Downer."Ini satu hal yang sangat memalukan di dunia internasional soal aparat kita, mengurangi gengsi. Setelah Australia ngomong, baru diakui. Itu karena tidak bisa bohong lagi" tegas Manullang kepada detikcom, Kamis (14/6/2007).Bahkan Manullang menduga keberadaan orang yang disebut-sebut sebagai Abu Dujana itu lebih dulu diketahui intelijen Australia, ketimbang intel polisi."Intel Australia sudah jauh meninggalkan intel Indonesia. Saya yakin intel Australia yang lebih tahu keberadaan Abu Dujana, bahwa Yusron itu Abu Dujana," ujarnya.Soal penangkapan Abu Dujana di Banyumas, polisi selama beberapa hari memilih tutup mulut. Polri tidak bersedia mengungkapkan bahwa teroris yang ditangkap itu adalah Abu Dujana. Polisi hanya menyebutkan nama Yusron Mahmudi, yang belakangan diakui sebagai Abu Dujana, sebagai orang kepercayaan Dujana.Ragukan Abu DujanaTerkait penangkapan Abu Dujana, sebagai orang yang mengetahui seluk beluk intelijen, mantan Direktur Bakin itu meragukan kebenarannya. "Saya ragu, seperti halnya Dr Azahari dulu. Kalau itu Abu Dujana, ambillah dulu darahnya, gigi, apakah benar itu Abu Dujana baru ditangkap," kata dia. Karena melibatkan operasi intelijen, imbuh Manullang, seyogyanya sejak jauh-jauh hari polisi sudah mengumumkan golongan darah dan ciri-ciri tertentu orang yang menjadi targetnya. "Baru dicari orangnya," cetus dia.Memburu orang di dunia intelijen, kata dia, tidak seperti yang dilakukan polisi saat ini."Harusnya laporan tentang orang bersangkutan disampaikan dulu ke petugas di atas soal ciri orang yang akan ditangkap. Tidak seperti penangkapan Abu, bisa jadi malah salah orang," tuturnya.Kalau asal main tangkap, Manullang khawatir umat Islam akan meradang. "Kita tetap berterima kasih kepada polisi yang giat menangkap teroris. Tapi jangan lupa, polisi jangan terlalu gampang memberi informasi intelijen. Sebab ini bukan informasi hasil penyelidikan atau penyidikan," tegasnya.
(umi/nrl)
Anda menyukai artikel ini
Artikel disimpan
