Tuna Netra Rame-rame Nonton Film
Rabu, 13 Jun 2007 15:41 WIB
Jakarta - Penyandang tuna netra nonton film? Jangan heran! Film "Ketika" memang diputar khusus untuk penyandang tuna netra. Film yang dibintangi Dedy Mizwar ini pun mampu mengocok perut penonton.Tawa penonton pecah saat film berdurasi 1,5 jam ini diputar di Goethe Institute, pusat kebudayaan Jerman di Jalan Sam Ratulangi, Menteng, Jakarta Pusat, Rabu (13/6/2007).150 Penyandang tuna netra mulai dari anak-anak, dewasa dan orang tua antusias menonton tayangan perdana film buah karya Dedy Mizwar ini. Mereka yang diundang oleh Yayasan Mitra Netra ini tampak mengenakan kaca mata hitam dan tongkat saat memasuki gedung bioskop. Gratis pula!Nah...film berjudul "Ketika" ini menceritakan sebuah keluarga yang diperankan Dedy Mizar dan Lidya Kandou yang kaya raya. Namun kehidupan mereka berbalik 180 derajat.Dedy tersangkut kasus penyuapan dan jatuh miskin lantaran perusahaan bangkrut akibat salah investasi. Semua asetnya disita. Dedy yang memiliki puteri bernama Mutiara ini pun sempat berniat menghabisi hidupnya. Namun niat itu diurungkan saat dia teringat keluarganya.Dedy akhirnya menjalani kehidupan yang baru dengan membuka warung nasi. Keluarga yang semula sombong ini kini bisa menghargai orang lain.Bagi penyandang tuna netra, penyuguhan film ini jelas berbeda. Setiap adegan yang tidak disertai dialog disisipi narasi sehingga dapat dipahami oleh penonton. Bak sandiwara radio saja!"Hahaha...," tawa penonton terdengar saat menonton adegan humor dalam film drama ini.Film yang diadaptasi untuk tuna netra ini digarap sejak April hingga Juni 2007 atas kerjasama Kedubes Swiss, Goethe Institute, dan VHR."Ini pengalaman baru. Saya senang ada sesuatu yang bisa diceritakan dan ini pertama kali saya bisa meresapi film secara utuh," kata Sugito (50), salah seorang penyandang tuna netra."Kami bisa merasakan kesenangan yang sama dengan orang normal hanya dengan pendengaran dan imajinasi tanpa dibantu visual. Jadi kesenangannya bisa dua kali lipat," ujarnya.Humas Yayasan Mitra Netra Aria Indawasi berharap para penyandang tuna netra bisa menikmati seni dan film yang merupakan suatu hak.
(aan/sss)











































