Raju Bisa Jadi Cermin Kasus Doni

Raju Bisa Jadi Cermin Kasus Doni

- detikNews
Selasa, 12 Jun 2007 10:08 WIB
Jakarta - Psikolog Sartono Mukadis meminta pembelaan terhadap M Doni Ardiansyah (9) tidak berlebihan. Kasus Raju di Sumatera Utara beberapa waktu lalu bisa dijadikan pelajaran. Jangan sampai si anak nakal jadi pahlawan."Saya tidak setuju anak dihukum penjara, tapi tetap harus ada hukuman yang bisa menjadi efek jera. Kita harus belajar banyak dari peristiwa Raju yang nakal, yang mukul, tapi jadi pahlawan," cetus Sartono kepada detikcom, Selasa (12/6/2007).Ketika kasus Raju menjadi besar dan diberitakan di media-media massa, mantan narapidana yang kini jadi mubalig Anton Medan langsung mengatakan, akan membinanya dan membawanya ke Jakarta. Raju sempat menginap di pesantren Anton Medan di Bogor sebelum akhirnya kembali ke kampung halamannya.Sementara Komnas Perlindungan Anak melakukan perlindungan dan pembelaan. "Ini berlebihan. Korbannya sendiri sengsara. Raju itu pelajaran yang berharga sekali," ujar Sartono.Diakui Sartono, jaksa memang salah memasukkan Raju ke penjara. Namun menjadikan si anak nakal sebagai pahlawan justru berdampak buruk bagi anak-anak, terutama yang bersangkutan."Anak jadi belajar bahwa hal itu wajar. Padahal tidak, jadi memang harus dihukum. Bagaimana bentuk hukumannya, ini jadi permasalahan," ujar dia.Karena itu, Sartono menyayangkan belum adanya UU khusus tentang pengadilan anak yang bisa mengatur bagaimana bentuk hukumannya. Dalam kasus kekerasan yang dilakukan seorang anak, Sartono menilai orangtualah yang harus dihukum keras. Dalam kasus Doni yang menganiaya I Kadek Adi Suwandana Putra (8), teman sekelasnya di SDN Pemecutan 27 Denpasar, hingga tewas, Sartono juga menyoroti pihak sekolah yang dianggapnya lalai."Pihak sekolah tidak bisa cuci tangan. Sekolah harus diberi peringatan keras. Nggak bisa nggak. Bahkan waktu zaman Belanda, oleh pihak inspeksi, guru bisa dikenai sanksi. Depdiknas juga harus turun tangan," tegasnya. Pihak sekolah harusnya mencermati murid-muridnya, sebab bisa saja Doni tidak nakal seketika. "Ya bukan berarti harus dikeluarkan tapi harus jadi perhatian," ujar Sartono.Untuk menghindari terulangnya lagi kejadian seperti Raju dan Doni, Sartono kembali mengusulkan adanya penelitian pihak berwajib mengenai bullying (pelecehan atau ancaman), sehingga bisa dijadikan pelajaran. "Dari situ bisa dilihat sudut patologisnya, apakah si anak berbuat kekerasan karena patologis, atau pendidikan keluarganya. Apakah dia dididik agresif atau tidak. Sebab kejahatan pada anak itu pasti mutlak. Saya katakan tidak mungkin faktor tunggal," tuturnya. Perilaku anak, imbuh dia, sangat ditentukan orangtuanya, lingkungan dan sebagainya. "Kalau tindakan orang dewasa mungkin bisa disebabkan faktor tunggal, tapi anak-anak tidakfaktor keluarga, dewasa bisa tunggal, anak-anak tidak mungkin," tandas Sartono. (umi/nrl)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads