Seorang Buron Teroris dari Sukoharjo Lolos Saat Digerebek
Minggu, 10 Jun 2007 16:54 WIB
Sukoharjo - Taqwim Billah, seorang buron dalam kasus terorisme, kembali lolos saat rumahnya digerebek. Dia telah lebih dulu meninggalkan rumah ketika para sejumlah orang bersenjata lengkap menggerebek rumahnya di Sukoharjo.Penggrebekan itu dilakukan Minggu (10/6/2007) pukul 02.00 dinihari. Tetangga Taqwim, Ngatimin, yang melihat langsung kejadian itu mengaku melihat sejumlah orang mengendarai dua unit mobil dan sepeda motor berhenti di dekat rumah Taqwim di Tangkil Baru, RT 3 RW 7, Manang, Grogol, Sukoharjo.Mereka menyandang senjata api lengkap dan langsung memblokade jalan keluar masuk kampung serta mematikan lampu penerangan jalan. Beberapa di antaranya langsung masuk dengan mendobrak pintu rumah Taqwim dan memecahkan kaca depan rumah."Aksi mereka sangat cepat, hanya sekitar 30 menit. Setelah itu mereka kembali pergi tapi saya tidak melihat Taqwim bersama mereka. Salah satu dari mereka mengaku kepada saya bahwa dia adalah anggota kepolisian," ujar Ngatimin, yang rumahnya persis di depan rumah Taqwim.Hingga Minggu siang, rumah Taqwim masih terlihat lengang dan tertutup. Istri Taqwim, Mutmainah beserta keempat anaknya memilih mengurung diri di rumah dan tidak bersedia ditemui. Terlihat tumpukan kain di beberapa tempat karena memang sehari-hari di rumah itu digunakan untuk pembuatan boneka kain.Polres Sukoharjo maupun Polwil Surakarta juga belum memberikan keterangan apa pun perihal kejadian tersebut. Namun berdasar informasi yang diterima detikcom, Taqwim lolos dari penyergapan karena telah meninggalkan rumah sebelum Tim dari Densus 88 Anti-Teror datang.Taqwim memang bukan nama baru dalam daftar buron Densus 88 Anti-Teror. Pada tahun 2003 lalu, Taqwim Billah juga berhasil meloloskan diri ketika anggota Densus 88 melakukan penggerebekan di rumah itu.Saat itu polisi tetap melakukan rekonstruksi di rumah tersebut dengan mendatangkan beberapa orang tersangka pelaku teror yang mengaku pernah melakukan simulasi pembuatan bom di tempat itu. Di antara beberapa orang yang saat itu didatangkan untuk melakukan rekonstruksi adalah Farhan Abas dan Tamim.
(mbr/nrl)











































