PDIP Gagal Ketemu Obama di Amerika Serikat
Jumat, 08 Jun 2007 22:41 WIB
Washington DC - Delegasi Fungsionaris PDI Perjuangan (PDIP), pimpinan Taufik Kiemas yang berkunjung ke Amerika Serikat sejak Senin 4 Juni lalu, gagal bertemu Barack Obama, calon presiden dari partai Demokrat.Meskipun demikian, kunjungan yang diikuti Sekjen PDIP Pramono Anung Wibowo, dan fungsionaris yanglain seperti Emir Moeis, Andreas Pareira, Hasto Kristiyanto, Helmy Fauzy, M Yamin, Budiman Sudjatmiko, dan Muhammad Ikhsan Yunus ini cukup padat dengan pertemuan dengan senator dan anggota kongres di Washington DC, Amerika Serikat. Ditemui pada acara USINDO Roundtable bertajuk "The Indonesian Democratic Party of Struggle (PDI-P): View from the opposition", Kamis 7 Juni sore di ruang konferensi USINDO di Massachussets Avenue, NW, Washington DC, Taufik Kiemas dan Pramono Agung memaparkan program partai PDI-P, pandangan partai terhadap kebijakan pemerintah baik untuk dalam dan luar negeri pada saat ini, hingga topik yang banyak dibahas di Amerika Serikat seperti HAM, Militer, maupun Penanaman Modal Asing. Selain itu, PDI-P juga mengemukakan keinginannya untuk menjadi partai oposisi yang sebenarnya bagi pemerintah. Seluruh fungsionaris nampak hadir di dalam ruangan tersebut. "Kunjungan kami ke Senator Reid (Senator Herry Reid, pemimpin mayoritas senat AS) kemarin (6/6), sangat mengesankan," ungkap Budiman Sudjatmiko kepada Endang Isnaini Saptorini, koresponden detikcom di Washington DC, selepas acara USINDO tersebut. "Reid mengatakan bahwa keberadaan oposisi merupakan unsur penting dalam proses demokrasi, dan Reid menghargai langkah oposisi yang juga ditempuh oleh PDIP, sebagai tanda kematangan berdemokrasi di Indonesia," imbuhnya ketika ditanya mengenai kesanselama di Amerika dalam rangka kunjungan bersama delegasi PDIP ini. Lebih lanjut, Budiman juga mengungkapkan pertemuan partainya dengan Dennis Kuchinik, calon presiden AS dari kubu yang sama dengan Obama, partai demokrat. Dengan agenda seputar kedaulatan finansial dan energi dari negara berkembang, Kuchinik memberikan salah satu alasan pengajuan diri menjadi presiden adalah untuk mendorong negara-negara tersebut untuk bisa memperjuangkan yang terbaik bagi negaranya sendiri. "Kuchinik juga mengatakan bahwa AS sekarang harus lebih banyak belajar demokrasi dari Indonesia", lanjut Budiman yang saat ini berkonsentrasi di departemen Pemuda dan Mahasiswa DPP PDI Perjuangan.PDI-P juga mendapat kesempatan untuk bertemu dengan Mentri Luar Negeri AS di era Bill Clinton, Madeleine Albright, dan Direktur Asia NSC, Dennis Wilder. Acara di USINDO merupakan acara terakhir yang dihadiri PDI-P di Washington, sebelum bertolak kembali ke tanah air, Jum'at (8/6) dari AS.
(eis/ary)











































