Cuma 2 Pasang Cagub, Pilkada DKI Hanya Mainan Orde Baru
Rabu, 06 Jun 2007 12:22 WIB
Jakarta - Gemerincing mainan baru Orde Baru mulai terdengar di tengah hiruk pikuknya persiapan Pilkada DKI Jakarta. Itu terlihat dari munculnya 2 pasang cagub."Ini semua adalah mainan Orde Baru. Kita harus mewaspadai permainan ini. Ini tidak lain cara-cara Partai Golkar yang ujungnya adalah pemenangan 2009," kata pengamat ekonomi politik UI Faisal Basri.Hal itu disampaikan dia dalam diskusi panel bertajuk 'Pilkada DKI Jakarta 2007 Harus Mengakomodir Calon Independen' di Wisma Nusantara, Jl Medan Merdeka Selatan, Jakarta, Rabu (6/6/2007).Faisal mengatakan, sejak awal dua kubu yang yang saling berhadapan, yaitu PKS dan Koalisi Jakarta, selalu dibenturkan isu-isu ideologis. Padahal isu tersebut sengaja dihembuskan Partai Golkar untuk menghantam PKS, dengan menggunakan kekuatan partai-partai yang bergabung dalam Koalisi Jakarta."Masalah kita adalah dengan Partai Golkar. Yang dimunculkan isunya seakan-akan PKS itu musuhnya PDIP, dan PDIP adalah musuhnya PKS. Mereka itu sebenarnya bukan musuh, tapi musuh bersama itu adalah Partai Golkar yang kembali ingin menguasai Ibukota," jelas dia.Bahkan menurut pria berkacama ini, jika riwayat hidup yang diusung Koalisi Jakarta diperiksa, maka bisa diketahui figur yang diusung itu tak lain adalah kader Golkar. Koalisi Jakarta dinilai terjebak dalam permainan Golkar, tak terkecuali PDIP."Cek saja riwayat Fauzi Bowo. Lahir batin adalah Partai Golkar. Hanya saja kebanyakan kita tidak sadar kalau kita dimainkan mereka," cetus Faisal.Dia pun meminta PKS menunda pendaftaran pasangan calonnya. Alasannya, agar muncul figur alternatif atau calon independen yang tidak terjebak skenario permainan Golkar.Faisal lantas mencontohkan skenario permainan dalam pemilihan pimpinan DPRD DKI lalu. Pada saat itu, Ade Surapriyatna (kini Ketua DPRD) yang notabene orang Golkar, menghembuskan isu agar jangan memilih Ketua DPRD dari PKS, jika DKI tidak ingin Jakarta dijadikan kota Taliban."Dan ternyata isu itu berhasil mempengaruhi mayoritas fraksi. Padahal Golkar kalah dalam pemilu legislatif. Dan ini yang mau dilakukan lagi di Pilkada DKI," beber Faisal.
(nvt/sss)











































