Surat Garuda dari Libanon

Surat Garuda dari Libanon

- detikNews
Selasa, 05 Jun 2007 15:23 WIB
Surat Garuda dari Libanon
Beirut - Apa kabar pasukan Kontingan Garuda (Konga) XXII-A di Libanon? Kabar paling baru, pada hari Minggu 3 Juni 2007 pukul 00.00 status hijau meningkat menjadi kuning. Mengantisipasi hal ini, Konga XXIII-A melakukan alarm of stealing. Apel yang diambil Kol Surawahadi merupakan perintah Panglima Unifil, Mayjen Claudio Graziano, untuk menghadapi situasi yang ada di Libanon. Ransel, bodyvest, helm dan senjata perorangan merupakan keharusan untuk dibawa. Ransel yang berisi perlengkapan untuk tiga hari dikenakan oleh personel Indonesia.Demikian siaran pers Perwira Penerangan Konga XXIII-A Mayor Muhammad Irawadi pada detikcom, Selasa (5/6/2007).Kegiatan dilanjutkan dengan masuk kedalam shelter (lubang perlindungan). Perlengkapan yang dikenakan seluruh personel, dibawa serta saat masuk shelter. Di dalam shelter juga sudah dilengkapi makanan dan minunan untuk bertahan selama tiga hari. Jumlah personel yang mampu ditampung di dalam shelter sebanyak 24 orang. Radio, peta dan westafel juga tersedia sesuai standar PBB. Saat ini kontingen Indonesia sedang menyiapkan shelter-shelter tersebut. Jumlah shelter saat ini belum mencukupi. Kompi zeni kontingen Spanyol dan Filandia yang menyiapkan kekurangan shelter tersebut. Sedangkan anggota yang lain masuk ke dalam Ranpur (kendaraan tempur).Berdasarkan catatan, saat berlangsung perang Juli 2006, kontingen India dan Ghana berlindung di dalam shelter sejenis ini sehingga tidak ada korban jiwa. Korban meninggal yang ada, berasal dari observers (pengamat militer) yang berada di pos Khiam, saat shelter/bunker tersebut dihujani peluru udara Israel.Terkait perubahan status menjadi Kuning berpengaruh kepada pelaksanaan patroli dan penjagaan. Sesuai standard operating procedur (SOP), jumlah personel maupun perlengkapan yang dikenakan ditingkatkan. Patroli menggunakan Ranpur ditambah menjadi empat unit (satu peleton). Sedang pada saat status hijau, Ranpur hanya dua unit untuk berpatroli.     Pertempuran yang masih berlangsung di utara Beirut antara aparat keamanan Libanon dan Fatah Al Islam mempengaruhi status kesiapsiagaan Unifil. Di sisi lain situasi politik Libanon atas pengesahan resolusi 1757 oleh PBB tentang pengadilan internasional atas terbunuhnya Rafik Hariri juga berdampak luas di masyarakat Libanon. Sementara itu hasil pengakuan dari tersangka yang meledakkan bus di Ain Alaq Beirut pada Februari lalu, menyebutkan bahwa kelompok Al Qaida memang berencana untuk menganggu keamanan di Libanon.Sebagai pasukan pemelihara perdamaian yang memiliki tugas pokok untuk memelihara perdamaian dan keamanan internasional menuntut kontingen Indonesia tetap waspada terhadap hal-hal kecil sekalipun. Salah satu prinsip dasar pengelaran operasi PBB adalah konservasi dan netral. Netral dimaksud adalah tidak terlibat dalam salah satu pihak yang bertikai juga tidak ikut permasalahan politik dalam negri. Kontingen Indonesia di Libanon memegang teguh prinsip tersebut. (nrl/nrl)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads