Dari Global Inter-Media Dialog, Oslo
Menkominfo: Wartawan Harus Dilindungi
Selasa, 05 Jun 2007 08:59 WIB
Oslo - Wartawan harus dilindungi untuk dapat melaksanakan pekerjaannya. Tidak hanya di daerah konflik bersenjata, tetapi di mana saja mereka ditempatkan.Hal itu dikemukakan Menteri Komunikasi dan Informatika (Menkominfo) Mohammad Nuh dalam sambutan pembukaan Global Inter-Media Dialog ke-2 bertema Prime Time for Diversity - Journalism in a Troubled World di Soria Moria Hotel, Oslo, Norwegia, 4/5/2007. Pertemuan dialog yang akan berlangsung hingga hari ini, Selasa 5/6/2007, merupakan kelanjutan dari pertemuan GIMD pertama di Bali pada 1-2/9/2006, yang digagas presiden SBY bersama PM Jens Stoltenberg untuk menjembatani gap antara agama, budaya dan masyarakat yang berbeda."Wartawan harus dilindungi tidak hanya bagi mereka yang bekerja di daerah konflik bersenjata, tetapi di mana saja mereka ditempatkan untuk melaksanakan pekerjaannya," demikian Mohammad, yang belum lama menggantikan Sofyan Jalil.Mohammad menegaskan bahwa Indonesia menyambut baik Resolusi DK PBB tentang perlindungan terhadap wartawan yang bekerja di daerah-daerah konflik. Resolusi tersebut juga mengutuk keras penyerangan terhadap wartawan dan menghimbau semua pihak yang terlibat di wilayah konflik bersenjata untuk menghormati hak-hak wartawan, media profesi dan kru khususnya hak-hak untuk hidup. Namun demikian, Mohammad menilai hal tersebut tidak cukup, karena wartawan harus dilindungi tidak hanya bagi mereka yang bekerja di daerah konflik bersenjata, tetapi di mana saja mereka ditempatkan untuk melaksanakan pekerjaannya. SinergiDalam kesempatan itu Menkominfo juga menyampaikan penghargaan kepada pemerintah Norwegia yang telah bersedia menyelenggarakan dan memfasilitasi pertemuan GIMD kedua ini. "Indonesia dan Norwegia mempunyai komitmen kuat terhadap perdamaian dengan meningkatkan toleransi beragama dan budaya di antara semua lini masyarakat," ujar mantan rektor ITS itu.Menurut Mohammad, terdapat sinergi dan persamaan antara Norwegia sebagai pecinta perdamaian dan penjunjung tinggi HAM dengan Indonesia sebagai sebuah negara berpenduduk muslim terbesar dunia, yang mempunyai komitmen tinggi terhadap demokrasi dan pluralisme. Mohammad mengatakan pertemuan GIMD ke-I di Bali mendapat respons positif dari kalangan media di seluruh dunia, yang berpendapat perlunya melakukan diskusi terhadap berbagai tantangan dan dari berbagai perspektif termasuk isu kontroversial. Dia menawarkan bahwa Indonesia bersedia menyelenggarakan GIMD ke-3 bulan Mei 2008 di salah satu kota di Indonesia.
(es/es)











































