Menanti Drama Interpelasi di Senayan
Selasa, 05 Jun 2007 07:04 WIB
Jakarta - Suhu politik di DPR tengah memanas. Ini terkait dengan digelarnya rapat paripurna interpelasi Iran. Meski dapat digolkan, namun ini seolah-olah menjadi antiklimaks. Pangkal musababnya, Presiden SBY yang diminta memberikan penjelasan ternyata hanya mewakilkannya kepada para pembantunya. Tak ayal ancaman boikot dan walk out pun merebak. Bila terbukti ini akan menjadi peristiwa yang menarik."Drama interpelasi yang kita tunggu, seberapa dramatis hujan interupsi dan walk out," kata pengamat komunikasi politik Effendi Ghazali, saat dihubungi detikcom, Selasa (5/6/2007).Namun lepas dari tontonan yang akan terjadi di dalam Gedung DPR, Effendi memastikan ini tidak akan berimbas pada tatanan politik. "Isu ini sudah tidak sensitif lagi. Ini tidak akan berakibat apa pun," imbuh Effendi.Interpelasi yang ditandatangani sekitar 200 anggota ini menimbulkan kegusaran di kalangan anggota dewan. Presiden yang menjadi sasaran tembak untuk memberikan penjelasan langsung ternyata hanya mengutus Menko Polhukam Widodo AS, Menlu Hassan Wirajuda, dan Mensesneg Hatta Rajasa.Interpelasi ini sejatinya tidak akan menjatuhkan presiden. Dan persoalan ini dalam komunikasi politik terjadi karena kurangnya komunikasi dan informasi. Namun pada dasarnya dalam komunikasi politik pun akan lebih baik apabila Presiden hadir."Akan menimbulkan kekaguman, ini membuktikan bahwa Presiden tidak takut," tutur akademisi UI ini.Drama di Senayan ini merupakan salah satu peristiwa politik yang layak ditunggu. Apakah hanya akan berakhir antiklimaks pula atau berlanjut terus dan bergulir menjadi sebuah fenomena politik."Itu yang menarik dan itu sama-sama kita nantikan," tandas Effendi.
(ndr/rmd)











































