Media Bukan Penyebar Kebencian dan Ketakutan

Dari Global Inter-Media Dialog, Oslo

Media Bukan Penyebar Kebencian dan Ketakutan

- detikNews
Selasa, 05 Jun 2007 06:36 WIB
Oslo - Media diharapkan dapat berperan aktif dalam membangun saling pengertian dan toleransi, dan sebaliknya bukan menjadi penyebar kebencian dan ketakutan. Demikian pesan yang mengemuka dalam pertemuan Global Inter-Media Dialog (GIMD) ke-2 yang digelar di Soria Moria Hotel, Oslo, Norwegia hari ini dan akan berakhir besok, 5/6/2007.Pertemuan GIMD ke-2 tersebut mengangkat tema Prime Time for Diversity - Journalism in a Troubled World. Hadir antara lain Menlu Gahr Store, sejumlah pejabat tinggi, Dubes Norwegia untuk Indonesia Bjorn Blokhus. Dari Indonesia Menkominfo Mohammad Nuh, Dubes RI untuk Norwegia dan Islandia Retno L.P. Marsudi, Dirjen Informasi dan Diplomasi Publik Andri Hadi, Juru Bicara Presiden Dino Patti Djalal, Deputi Direktur Diplomasi Publik dan Staf, Wakil Direktorat Eropa Barat, serta Staf KBRI Oslo.Peserta pertemuan lainnya adalah wartawan media dari Norwegia, Indonesia, Rusia, Bosnia, New Zealand, Hong Kong, Arab Saudi, Qatar, Afghanistan, Yordania, Filipina, Banglades dan dari Universitas Indonesia (UI).Dalam sambutannya, Menlu Jonas Gahr Store mengatakan perlunya perlindungan kredibel untuk semua hak-hak asasi manusia (HAM), agama dan budaya, serta kelompok minoritas."Ini tidak hanya baik bagi pribadi tetapi juga baik bagi masyarakat secara keseluruhan," kata Store.Waspada PenafsiranMenurut Store, setelah peristiwa kontroversi tentang kartun Nabi Muhammad, kita harus menyadari bahwa masyarakat dunia menafsirkan kebebasan beragama dalam pandangan yang berbeda-beda."Beberapa menafsirkan kebebasan beragama diartikan sebagai perlindungan terhadap agama. Pihak lain seperti halnya pemerintah Norwegia mengklaim bahwa kebebasan beragama melindungi para penganutnya," kata Menlu kelahiran 25 August 1960 itu. Tokoh Partai Buruh itu juga mempertanyakan apakah berbagai macam bentuk perlanggaran HAM telah cukup diberi perhatian? Apakah sudah cukup diberikan kebebasan bagi agama minoritas? "Apakah kita telah gagal dalam melindungi kebebasan berbicara bagi penganut kepercayaan, yang hasilnya kita tidak mengerti perbedaan dalam mindset dari kita sendiri," ujarnya. Store lebih jauh menegaskan peran wartawan menjadi sangat penting bila mereka melaporkan tentang pelanggaran yang dilakukan oleh pemerintah atau pihak-pihak dalam sebuah konflik, juga mempertanyakan dan menyuarakan suara kelompok minoritas. Dengan kata lain ketika mereka mengambil resiko terbesar dalam upaya memperoleh informasi dan kebenaran.Wartawan, kata Store, melalui pekerjaannya akan menjadi garda HAM bila menulis perihal kelompok minoritas. "Ketika meliput demo yang diadakan oleh kelompok oposisi, mempertanyakan pernyataan yang kritis, dan menemukan terjadinya penganiayaan di dalam penjara," demikian Store. (es/es)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads