Piknik Mur-mer 3 Negara (5)
Keliling dengan Senjata Moo
Senin, 04 Jun 2007 14:55 WIB
Jakarta - Setelah perjalanan panjang dari Koh Samui, saya dkk tiba di Bangkok pukul 05.00 pagi dan langsung disambut sopir tuk-tuk yang menyebut dirinya "taksi". Sopir tuk-tuk di Thailand mengenakan seragam kemeja berwarna biru muda. Saya telah memesan hotel bintang tiga di Silom - daerah bisnis di Bangkok - dari internet jauh hari sebelumnya. Untuk mencapai hotel tersebut, sopir tuk-tuk meminta 400 bath. Setelah tawar-menawar akhirnya kena 200 bath. Harga ini bisa lebih murah lagi bila kami lebih getol menawar. Tuk-tuk di Bangkok berbeda dengan di Hatyai. Di sini tuk-tuk benar-benar seperti taksi di Jakarta. Sedangkan tuk-tuk di Hatyai seperti Mikrolet yang mengangkut siapa pun yang mencegatnya. Bagi yang suka naik kendaraan yang "nyaman", naik tuk-tuk di Bangkok tidak disarankan. Sebab tuk-tuk bikin sport jantung. Ngepot sana, ngepot sini. Pukul 05.00 pagi, Bangkok telah berdenyut. Kendaraan ramai berseliweran, mirip Jakarta. Hari pertama di Bangkok kami isi dengan mencari biro tur. Kebetulan di hotel kami ada konter tur, sehingga kami menggunakan biro tur itu saja. Kami membeli tiket wisata ke Grand Palace, kompleks istana Raja Thailand yang dibangun 1782 seharga 750 bath/orang (1 bath = Rp 275). Tiket kabaret Calypso di Hotel Asia seharga 550 bath/orang dan makan malam di kapal pesiar Chao Phraya Princess seharga 1.100 bath/orang. Kecuali kabaret, kami diantar jemput dari hotel oleh kendaraan biro tur. Sedang di Grand Palace, kami ditemani seorang pemandu wisata. Untuk ke Grand Palace, tentu saja tidak harus memanfaatkan jasa tur. Cukup datang ke sana langsung dan bayar tiket masuk 250 bath/orang. Anda bisa mempelajari istana tersebut lewat brosur yang dibagikan petugas istana. Jangan lupa bawa payung/topi karena panasnya tidak ketulungan! Setelah beberapa jam berkeliling di Grand Palace, petugas wisata tidak langsung membawa kami pulang ke hotel, tapi ke Gems Gallery yang menyebut dirinya The World's Biggest Jewelry Store. Di Bangkok, setiap orang yang memanfaatkan jasa biro tur, ujung-ujungnya akan dibawa ke sini. Bahasa kasarnya, "ditodong". Biro tur tentunya akan mendapatkan insentif dari sini. Gems adalah pabrik perhiasan yang besar. Begitu tiba, turis disambut oleh gadis-gadis cantik berbusana tradisional Thailand. Mereka memberi tamu segelas minuman dingin. Setelah itu, tamu dibawa ke sebuah ruangan gelap untuk diputarkan film tentang tambang batu berharga, proses pembuatan perhiasan hingga hasil jadinya. Karena kami berasal dari Indonesia, maka kami disuguhi film 10 menit itu dengan narasi bahasa Indonesia. Setelah itu, kami diajak berkeliling melihat proses pembuatan perhiasan dan ujung-ujungnya dibawa ke konter-konter perhiasan. Meski belanja perhiasan tidak ada di list belanja kami, akhirnya kami harus membeli. Bukan karena sungkan, tapi karena penjualnya pintar memikat hati. Saya saat itu dilayani oleh seorang sales bernama Karim. Dia piawai berbahasa Indonesia. "Saya suka sekali nonton sinteron Hidayah," kata pria yang juga mahir berbahasa Italia itu. Di sini, saya membeli cincin safir biru. Sengaja saya cari yang harganya miring agar bujetnya cukup. Lady Boys Malamnya, saya dkk menonton kabaret Calypso di Hotel Asia. Kabaret ini dimainkan oleh lady boys, yaitu kaum pria yang telah berganti kelamin menjadi wanita. Calypso adalah kabaret yang "terhormat", jadi anak-anak kecil diperkenankan menonton. Ketika kabaret dimulai pada pukul 20.15 WIB, langsung menyihir penonton yang rata-rata turis asing. Mereka terpesona karena para pelakonnya mulus, seksi, benar-benar seperti wanita 100 persen! Di Thailand, lady boys merupakan gender ketiga yang diakui. Kabaret ini berdurasi 1,5 jam. Seorang lady boy yang lucunya mirip Tessy Srimulat, mengocok perut penonton. Setelah pertunjukan usai, penonton dipersilakan untuk foto bersama dengan para pemeran kabaret. Para lady boys yang serba seksi, berdiri berjajar dan penonton berfoto dengan lady boys yang disukainya. Lady boys mirip Tessy banyak diajak berpose oleh penonton dari Indonesia. O ya, jika membeli tiket kabaret ini langsung di loketnya, harganya cukup mahal yaitu 1.000 bath! Selain Calypso, terdapat juga kabaret yang hanya khusus untuk orang dewasa. Pertunjukan nakal ini bisa dilihat di klub-klub malam di daerah Patpong. Di sini, pelakonnya bukan lady boys, tapi lady betulan. Di Patpong, perempuan berbikini tengah menari-nari terlihat jelas dari pinggir jalan. Maklum, pintu klub dibuka lebar-lebar sehingga pejalan kaki bebas meliriknya. Esok malamnya, saya dkk berwisata makan malam di atas kapal pesiar Chao Phraya Princess menyusuri sungai Chao Phraya. Sungai ini merupakan muara 4 sungai dan membelah jantung Bangkok. Banyak orang Indonesia yang juga berwisata di kapal ini. Mereka meminta agar grup band yang menghibur ratusan tamu, menyanyikan sejumlah lagu-lagu Indonesia. Moo Bagi kaum Muslim, butuh perjuangan tersendiri untuk menemukan makanan halal di Bangkok. Di sini, daging babi bagaikan kudapan. Di mana-mana daging babi. Untunglah sebelum ke Bangkok, ada teman yang memberi saya resep yaitu kata moo. Moo merujuk pada daging babi. Kata ini sangat berguna bagi kami untuk menanyakan makanan yang disajikan. "Pork?" pertanyaan itu akan dimengerti oleh orang Thai yang tahu bahasa Inggris. Tapi bagi yang tidak tahu bahasa Inggris, tanyalah, "Moo?" Dan mereka akan mengangguk atau menggeleng sebagai jawabannya. Dengan berbekal kata moo, wisata kuliner Anda di Bangkok bakal lebih menyenangkan.
(nrl/umi)











































