Piknik Mur-mer 3 Negara (4)
Backpacker Harus Sabar Menanti
Senin, 04 Jun 2007 12:53 WIB
Jakarta - Dari Kuala Lumpur, saya dkk meneruskan perjalanan ke Koh Samui, sebuah pulau di Thailand, 685 km dari Bangkok. Tujuan saya Pulau Penang, masih kawasan Malaysia. Saya berangkat pagi-pagi dari Kuala Lumpur ke Low Cost Carier Terminal (LCCT) milik AirAsia. LCC dicapai 20 menit dari Bandara KL International Airport (KLIA). AirAsia membangun sendiri bandara ini demi efisiensi. Menurut seorang teman pramugari Malaysia Airlines (MAS), sebelum AirAsia memiliki bandara sendiri, maskapai sering didenda oleh otoritas KLIA karena sering telat dengan berbagai alasan. Karena itulah maskapai berbiaya murah ini membangun bandara sendiri. Tiba di LCCT, saya dkk disambut oleh pegawai-pegawai bandara berkaos gelap yang menanyakan tujuan kami. Mereka membawa kantong-kantong plastik transparan. Oh, rupanya mereka mencari penumpang internasional. Hari itu kebetulan Malaysia memasuki hari kedua penerapan kebijakan Liquid, Aerosol dan Gas (LAG). Penumpang yang hendak ke luar negeri dicegat di lobi dan diminta memindahkan barang-barang LAG-nya ke plastik yang mereka bawa. Di Indonesia, kebijakan LAG sudah diterapkan per 1 Maret silam. Karena kami masuk kategori penerbangan domestik, kami tidak kena kebijakan LAG. Sejam kemudian, kami sampai di Penang. Dari bandara, kami naik taksi yang daftar harganya tertempel di pintu keluar. Tujuan kami adalah Komtar-George Town. Penang merupakan batu loncatan untuk menuju Koh Samui. Suasana George Town jauh dari gemerlap bila dibandingkan Kuala Lumpur. Banyak kendaraan tua lalu lalang. Becak yang dikayuh pria tua bermata sipit juga terlihat di sudut-sudut jalan. Suasana George Town bagaikan Glodok tahun 1980-an. Di George Town, kami mencari kendaraan yang membawa kami ke Koh Samui. Kami memasuki sejumlah biro travel untuk membanding-bandingkan. Akhirnya kami cocok dengan sebuah biro yang memasang harga RM 70/orang (1 RM = Rp 2.650). Ini merupakan joint tikcet (bus dan feri). Tapi kendaraan berangkat pukul 12.00. Akhirnya, kami menunggu 3 jam di kawasan Komtar. Jauh hari kami membaca bahwa kendaraan travel menuju Koh Samui banyak komplain. Jadi kami sudah persiapan mental jikalau ternyata kendaraan itu tidak menyenangkan. Rute yang kami lewati nanti adalah George Town- Hatyai - Koh Samui. Pukul 12.00 WIB, sebuah minivan ber-AC datang. Itulah kendaraan pengangkut kami. Selain saya dkk, kendaraan itu juga berisi 3 warga Indonesia asal Sumut dan seorang gadis yang hendak mudik ke Hatyai, Thailand Selatan. Keluarga Agus, WNI tersebut, mengaku sudah berkali-kali pergi ke Hatyai. Selama di Hatyai, keluarga tersebut menggunakan bahasa Mandarin, bahasa yang juga dikuasai oleh sejumlah warga Hatyai, khususnya yang berada di daerah turis. Keluarga Agus tidak takut pergi ke Hatyai meski kawasan itu diberitakan sering terjadi bentrokan bersenjata. "Saya merasa aman-aman saja," katanya. Dari Penang menuju Hatyai, kami melewati satu kantor imigrasi Thailand di perbatasan. Petugas mengutip RM 1. Hatyai adalah daerah Thailand yang berbatasan dengan Malaysia. Suasana Melayu cukup kental di sini. Surau masih mudah ditemukan. Tiba di Hatyai, saya diturunkan di sebuah kantor biro perjalanan di pusat kota pukul 14.30. Kami harus menunggu 7 jam lagi untuk berangkat ke Koh Samui! Kami mengusir waktu dengan jalan-jalan di seputaran kota. Pukul 21.30 WIB, dari terminal Hatyai, kami diangkut menuju Koh Samui dengan sebuah bus double-decker yang dingin dan jok kursinya sangat nyaman. Pukul 05.00, kami tiba di pelabuhan feri. Dua jam perjalanan, kami tiba di pelabuhan feri Koh Samui. Dari jauh matahari mengintip dengan indahnya. Pantai Koh Samui yang dikelilingi pasir putih, berkilauan. Koh Samui adalah pulau ketiga terbesar di Thailand. Ada sejumlah pantai di pulau tersebut. Pantai yang saya tuju adalah Lamai. Di sini kami telah memesan hotel bintang tiga lewat internet. Tarifnya USD 29/malam. Jika langsung datang ke hotel, lebih mahal. Dari pelabuhan feri Koh Samui, kami menumpang tuk-tuk ke hotel. Tarifnya 50 bath/orang (1 Bath = Rp 275). Pantai-pantai Koh Samui sungguh indah, bersih dan jernih. Pantai ini sangat disukai oleh orang Eropa. Bahkan pelatih sepakbola Sven-Goran Eriksson memiliki kondominium di sini. Di Indonesia, Koh Samui memang kalah tenar dibandingkan Pattaya dan Phuket, meskipun ada biro jasa perkawinan yang menawarkan pulau ini sebagai tempat honeymoon yang romantis. Bagi Anda yang ingin berlibur di pantai indah yang tidak terlalu ramai, Koh Samui adalah jawaban tepat! Saya dkk di Koh Samui hanya 2 malam. Dan proses sabar menunggu sebagai backpacker kami rasakan lagi ketika meninggalkan Koh Samui menuju Bangkok dua hari kemudian. Joint ticket dari Koh Samui ke Bangkok 650 bath. Pukul 11.30, kami dijemput oleh sebuah minivan dari biro travel kami. Minivan itu berisi kami dan sejumlah orang kulit putih. Setelah dua jam perjalanan, kami diturunkan di pelabuhan feri. Setelah menunggu satu jam, feri pun berangkat menuju pelabuhan Surathani. Feri ini dipenuhi orang kulit putih yang asyik berjemur. Dua jam kemudian, feri merapat di pelabuhan feri Surathani. Di sini kami menunggu sekitar 2 jam untuk diangkut dengan sebuah pick up menuju ke sebuah kantor pusat biro travel. Di biro travel ini kami menunggu 2 jam lagi untuk diangkut bus double-decker menuju Bangkok. Proses menunggu ini jelas membuat mereka yang baru pertama kali merasakan wisata dioper-oper, termasuk saya dkk, bete. "Apakah memang selalu begini ya kebiasaan di sini?" keluh seorang seorang backpacker kulit putih pada rekannya. Jika Anda tidak ingin menunggu berjam-jam dan dioper-oper, caranya gampang, Anda cukup naik pesawat terbang. Tapi tentu saja ongkosnya berlipat. Misalnya saja Penang - Koh Samui lewat darat bisa dicapai dengan ongkos sekitar Rp 185 ribu, tapi kalau lewat udara, butuh Rp 750 ribu!Foto:Pantai di Koh Samui dan papan iklan bungalows seharga 150-200 bath/hari (Rp 41.250 - 55.000).
(nrl/ana)











































