Demo Kasus Pasuruan, Mahasiswa dan Petani Salatiga 'Diusir'
Senin, 04 Jun 2007 12:45 WIB
Salatiga - Sekitar 250 mahasiswa dan komunitas petani Salatiga kecewa. Sebelum berhasil menyampaikan uneg-uneg panjang lebar terkait insiden di Alastlogo, Legok, Pasuruan, di Korem, mereka 'diusir'.Pada awalnya, gabungan massa dari Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII), Organisasi Tani Jawa Tengah, Front Perjuangan Pemuda Indonesia (FPPI), Serikat Paguyuban Petani Qariyah Thoyibbah dan LSM itu memulai aksinya dari Kampus STAIN, Jalan Teuku Umar.Dari kampus tersebut, mereka melakukan long march menuju Korem di Jalan Diponegoro sejauh 3 KM. Puluhan polisi mengawal. Lalu lintas jalan protokol di Salatiga pun tersendat.Sesampai di Korem, puluhan anggota Dalmas Polres Salatiga siap menghadang. Jalan Diponegoro ditutup. Korlap aksi, Imam Rozy mempersilahkan sejumlah pendemo melakukan aksi teatrikal yang menggambarkan kekejaman TNI terhadap petani.Setelah dua perwakilan organisasi berorasi, mendadak seorang perwira personel TNI mendatangi massa aksi dan menanyakan surat izin kegiatan. Karena tak mendapat jawaban memuaskan, perwira tersebut memerintahkan personel TNI 'mengusir' pendemo.Pendemo sempat tegang. Dengan dipimpin Imam Rozy, mereka langsung menggelar shalat gaib untuk mendoakan korban tewas di Alastlogo. Tak sampai satu menit, shalat gaib selesai, dan pendemo pun terbirit-birit meninggalkan Korem sekitar pukul 11.40 WIB.Para demonstran yang tergabung dalam Aliansi Rakyat dan Mahasiswa Peduli Petani itu menuju Kantor DPRD Salatiga. Puluhan personel Dalmas dan polisi lalu lintas mengawal aksi tersebut.Dalam aksi tersebut, para pendemo menuntut pemerintah mengusut tuntas penembakan di Alastlogo, penegakan supremasi sipil, dan menolak kebangkitan militerisme ala Orde Baru. "Petani sangat berjasa bagi semua, kenapa harus ditindas," kata Imam Rozy.
(try/djo)











































