Laporan dari Den Haag
'10 Tak' dalam Komunikasi dengan Anak
Minggu, 03 Jun 2007 21:32 WIB
Den Haag - Kalau punya anak, ambillah konsekuensi dan tanggung jawab sebagai orangtua. Umumnya orangtua tidak sadar bahwa banyak kekeliruan mereka lakukan dalam berkomunikasi dengan anak-anaknya.Direktur Pelaksana Yayasan Kita dan Buah Hati Elly Risman Musa mengemukakan hal itu dalam workshop tiga hari (1-3/6/2007), yang digelar komunitas Salamaa, di Delft, Belanda.Elly menekankan betapa besar tanggung jawab orangtua dalam mengasuh, mendidik dan membesarkan anak-anak, apalagi dalam era informasi dan multimedia sekarang ini. Salah satu kunci utama dari pengasuhan tersebut adalah komunikasi.Ibu tiga anak ini mengidentifikasi ada 10 kekeliruan yang belum disadari para orangtua dalam berkomunikasi dengan anaknya. Akumulasi dari hal ini, yang mungkin tidak disengaja dilakukan orangtua terhadap anak-anaknya, ternyata bisa melahirkan kondisi kekerasan verbal dan mental di dalam rumah kita sendiri, yang kelak bisa berakibat buruk.Pada akhirnya kondisi ini akan menghasilkan anak-anak yang tidak percaya diri, stres, kemampuan berfikir menjadi rendah, tidak terbiasa mengambil keputusan sendiri dan terus-menerus merasa iri.Sepuluh kekeliruan tersebut adalah bicara dengan anak secara tergesa-gesa. Orangtua, terutama yang bekerja dan memiliki keterbatasan waktu, umumnya berbicara dengan anak dengan tergesa-gesa, sehingga informasi yang disampaikan menjadi mudah dilupakan. Tidak nyambung atau tidak bisa direkam oleh anak dengan baik.Menurut penelitian, orangtua yang dua-duanya bekerja penuh, hanya mampu menyediakan waktu efektif untuk anak-anaknya 20 menit per hari dan dua hari akhir pekan. Padahal anak-anak membutuhkan lebih dari itu untuk kontak yang intens: curhat, berkeluh-kesah, berbagi, bercerita, dan bentuk perhatian lainnya.Selain itu banyak orangtua yang tidak mengenal dirinya sendiri. Bagaimana mereka bisa mengenal anaknya, kalau diri mereka sendiri saja tidak kenal? Siapa saya? Apa kelebihan dan kekurangan saya? Banyak orangtua yang merasa seolah paling mengenal anaknya, padahal dirinya sendiri kelimpungan dengan pertanyaan, "Siapa saya?"Orangtua juga lupa bahwa setiap individu itu unik. Kalau ada anak susah membaca (disleksia) langsung dicap bodoh. Padahal anak mungkin menyimpan bakat dan kemampuan lain. Contohnya Lee Kuan Yew. Pada masa kecil pemimpin Singapura ini menderita disleksia, namun karena orangtuanya tanggap, Lee kecil diberi pengasuhan dan pendidikan sesuai dengan keunikannya. Hasilnya, Lee bisa menjadi orang berhasil.Kekeliruan berikutnya tidak memahami perbedaan kebutuhan dan kemauan. Kebutuhan dan kemauan anak ini merupakan dua hal yang berbeda. Seorang anak yang dilengkapi kebutuhannya oleh orangtua sering kali tidak sejalan dengan kemauannya. Orangtua sering tidak menanyakan apa kemauan si anak. Akibatnya bisa memicu kesalahpahaman antara orangtua dan anak, sehingga kemauan anak sering terabaikan. Dalam pembicaraan, orangtua seringkali juga tidak memperhatikan bahasa tubuh anak. Akhirnya orangtua tidak tanggap terhadap keinginan dan respon balik dari anak. Apakah respon si anak itu senang atau tertekan. Jika hal ini berlangsung secara terus-menerus, maka jiwa anak menjadi tertekan dan tidak nyaman dengan orang tuanya sendiri.Elly menyorongkan satu kasus, ada anak pulang sekolah langsung menghentak-hentakkan kakinya di lantai dan lantai masih basah. Umumnya orangtua akan berteriak dan marah-marah. Akibatnya anak langsung ketakutan, lari masuk kamar. Padahal dari bahasa tubuh itu terkandung setumpuk informasi. Ternyata anak itu mengalami berbagai hal yang mengecewakannya: di sekolah dia ditegur guru karena lupa membawa pekerjaan rumah, terus dalam perjalanan pulang ke rumah dia diganggu sekelompok anak nakal. Kalau orangtua langsung marah, semua ini akan terpotong, tidak bisa dikomunikasikan anak dan dipendam saja. Seringkali orangtua juga tidak mendengar perasaan anak. Ini diakibatkan karena orangtua ingin mengkompensasi rasa bersalah karena kurang waktu untuk sang anak, melimpahi anak dengan kado yang tidak mereka butuhkan. Ini akan mengakibatkan anak merasa bahwa orangtuanya tidak pernah mengerti apa yang dia inginkan. Anak bisa mengalami frustasi.Berikutnya banyak orangtua menggunakan bahasa populer: memerintah, menyalahkan, meremehkan, membandingkan, mencap, mengancam, menasehati, membohongi, menghibur, mengeritik, menyindir, menganalisa.Kekeliruan lainnya, orangtua kadang tidak memisahkan masalah siapa. Masalah mereka sebagai orantua atau masalah si anak. Selain itu sering juga orangtua memakai bahasa "kamu". Sehingga anak selalu diposisikan sebagai pihak yang salah.
(es/es)











































