Wapres: Menolak UN Berarti Ingin Rakyat Indonesia Terpecah

Wapres: Menolak UN Berarti Ingin Rakyat Indonesia Terpecah

- detikNews
Sabtu, 02 Jun 2007 18:42 WIB
Solo - Wakil Presiden Jusuf Kalla mengingatkan kepada para guru, terutama yang menolak ujian nasional (UN). Menurutnya, UN sangat diperlukan bagi para pelajar untuk peningkatan mutu pendidikan dan kualitas bangsa ke depan. Dengan menolak UN berarti menghendaki rakyat Indonesia terpecah.Hal tersebut ditegaskan Jusuf Kalla di hadapan para pengurus PGRI saat meresmikan monumen PGRI di halaman SMPN 10 Surakarta, Sabtu (2/6/2007) sore. Pernyataan ini menjadi penting karena saat ini Pemerintah sedang menghadapi gugatan di pengadilan oleh dilakukan para guru yang menolak UN."Pemerintah tidak akan menyulitkan bangsa, tapi pemerintah berkewajiban untuk mencerdaskan bangsa. Untuk mencerdaskan itu keseriusan belajar dengan standar-standar tertentu. Untuk itu juga harus diuji dengan standar-standar tertentu itu pula," kata Kalla."Tanpa standar-standar itu, tidak mungkin kita mengetahui di mana kita berada di negeri ini. Tanpa itu, kita tidak tahu dimana kita berada dalam percaturan pergaulan antarbangsa ini," lanjut pria berkumis tebal ini.Kalla mengatakan, tidak mungkin suatu kecerdasan akan datang tanpa didasari dengan belajar yang tekun. Untuk mencapai itu, murid harus dididik dengan disiplin yang tinggi karena tidak ada murid yang mau belajar dengan sukarela tanpa penerapan disiplin yang tinggi pada mereka."Kita malu pada bangsa-bangsa lain. Bangsa kita ini yang yang pergi ke negeri lain hanya menjadi buruh perkebunan, pembantu rumah tangga atau sopir. Sulit diterima menjadi manajer atau pekerjaan yang lebih baik. Itu karena kita tidak menerapkan standar dalam pendidikan," lanjutnya.Dengan UN, lanjut Kalla, lulusan sekolah di kota besar maupun di daerah terpencil akan memiliki kualitas yang sama karena lulus dengan standar yang sama pula."Jika kita terlalu mentolerir orang-orang yang menolak (UN) bangsa ini akan cepat pecah. Kalau hanya murid di Solo dan Jakarta yang dibikin pintar, sedangkan yang di Maluku, Kendari, NTT tidak, maka akan ada bangsa kelas satu dan kelas dua. Ini tidak menyadari arti NKRI yang sebenarnya," tegas Kalla. Apa iya? (mbr/ken)


Berita Terkait