12 Kabupaten Dapat Bantuan Program P4DT Rp 900 Juta
Sabtu, 02 Jun 2007 00:51 WIB
Sofifi - Kementerian Negara Pembangunan Daerah Tertinggal (PDT) menetapkan 12 kabupaten di seluruh Indonesia untuk menjalankan program Percepatan Pembangunan Pusat Pertumbuhan Daerah Tertinggal (P4DT). Program P4DT akan berlangsung selama 3 tahun, pada tahun pertama akan mendapatkan bantuan dana Rp 900 juta."P4DT lebih dititikberatkan pada pengembangan kawasan secara integratif berbasis agribisnis," kata Menneg PDT Lukman Edy dalam sambutan peresmian Gedung DPRD Hakmahera Timur (Haltim) dan RSUD Maba, Maba, Haltim, Maluku Utara, Jumat (1/6/2007).Dana tersebut direncanakan sudah turun bulan Juni untuk tahun 2007. Dua tahun berikutnya, bantuan dana yang diberikan akan meningkat pada semua kabupaten termasuk Haltim.Menurut Lukman, di Haltim dana tersebut akan digunakan untuk pengembangan budidaya padi beserta industri hilirnya. Pada saat ini, produktivitas padi di Haltim masih rendah, sekitar 2 ton per hektar.Produktivitas yang rendah tersebut disebabkan antara lain karena belum menggunakan bibit unggul, keterbatasan sarana produksi hingga keterbatasan modal."Apabila program ini berhasil, diharapkan produktivitas padi meningkat 8-10 ton per hektar sehingga Haltim bisa swasembada padi," ujar Lukman.Daerah di Haltim yang akan dijadikan percontohan pengembangan budidaya padi adalah Subaim dan Wasile. "Suatu saat beras Subaim dan beras Wasile tidak kalah poluler dengan beras Delangu dari Jawa Tengah dan beras Cianjur dari Jawa Barat," pungkas Lukman.Sementara itu, Deputi Bidang Sumber Daya Menneg PDT Made Astawa Rai mengatakan dana bantuan akan langsung diberikan kepada masyarakat pelaku yang membentuk kelompok badan usaha semacam koperasi."Jadi tidak lewat pemerintah, langsung pada pelakunya. Penggunaan dana serta pelaksanaan kita awasi," ujar Made.Besarnya dana Made mengusulkan untuk tahun depan adalah Rp 2 miliar per kabupaten. "Namun tergantung persetujuan DPR," ujarnya.Made merinci 11 kabupaten lain selain Haltim yang diberikan dana untuk pengembangan agribisnis sesuai dengan komoditas unggulan daerahnya. Kesebelas kabupaten itu adalah Donggala (Sulawesi Tengah) untuk komoditas bawang merah, Halmahera Tengah (Maluku Utara) untuk kelapa, Sikka (Nusa Tenggara Timur) untuk kakao, Manggarai (NTT) untuk jambu mete, Dompu dan Bima (Nusa Tenggara Barat) keduanya untuk sapi potong, Muko-muko (Bengkulu) untuk gula merah kelapa, Kuantan Singingi (Riau) untuk karet, Mamuju Utara (Sulawesi Barat) untuk sapi dan jeruk, serta Mamuju (Sulbar) untuk perikanan.
(nwk/mly)











































