Bali di Mata Masyarakat Belgia

Laporan dari Brussel

Bali di Mata Masyarakat Belgia

- detikNews
Kamis, 31 Mei 2007 22:51 WIB
Brussel - Penjaja barang dan jasa menjadi gangguan nomor wahid. Perlu pembenahan segera, supaya segala sumber daya yang dikerahkan tidak sia-sia.Daya tarik Bali tak terbantahkan. Kenangan indah selama di Bali menjadi vitamin V (vakansi atau liburan) yang berkhasiat, menyehatkan jiwa raga. Cerita-cerita superlatif tentang Pulau Dewata pun berhamburan di sela jeda Parade Gala Dinner and Balinese Gamelan Performance and Dance di Thon Hotel Brussels City Center tadi malam atau Kamis (31/5/2007).Tentang keramahan masyarakat Bali dan personel hotel, keindahan alamnya, kerajinan dan kebudayaannya yang adiluhung, makanannya yang enak, kemurahan harga, hingga kemudahan menemukan makanan Barat yang kadang menggugah kerinduan selera mereka. Semua serba melegakan telinga.Namun, Bali bukan surga hakiki yang serba sempurna. Masyarakat Belgia, setidaknya terwakili dari mereka yang hadir di Brussel semalam, masih mengeluhkan beberapa hal minor yang dirasa mengganggu kenyamanan liburan. Yang paling teratas disebut adalah gangguan dari para penjaja barang dan jasa yang terkesan memaksa. Mereka ini tetap menempel, menguntit dan mendesak, meskipun sudah dikatakan "No", "Tidak", "Tusing" dan isyarat lain yang sinonim dengan penolakan.Di posisi kedua adalah masalah ketidakjujuran. Di beberapa tempat para wisatawan merasa terkecoh terkait jasa pemanduan, penyewaan dan sejenisnya. Orang Barat pada umumnya sangat membenci hal seperti ini. Mereka lebih menyukai transparansi dan keterusterangan.Berikutnya soal etika dan keadaban. Para wisatawan Belgia menjadi orang paling malang sedunia jika keberadaan mereka berbarengan dengan acara kongres atau rombongan besar wisatawan domestik. Pengalaman mereka, rombongan peserta kongres terkesan banyak menuntut ke pihak hotel untuk dinomorsatukan, sementara mereka sebagai wisatawan asing dimarginalkan. Dari mulai sesi sarapan yang diduduki serentak dan berlama-lama, yang mengakibatkan mereka kehilangan kesempatan untuk sarapan tepat waktu dan nyaman, hingga hal-hal paling prinsipil yang merusak kenyamanan. Kehadiran wisatawan domestik dalam jumlah besar juga menjadi gangguan tersendiri: bicara keras-keras dan tertawa terbahak-bahak hingga memekakkan telinga. Padahal di lingkungan hotel seyogyanya berbicara pelan dan tertawa secara sopan, sebab orang memerlukan suasana tenang untuk istirahat.Pemerintah setempat, pelaku bisnis pariwisata, dan masyarakat perlu segera mengatasi hal ini. Jangan sampai menutup mata dan berkilah bahwa hal-hal kurang menyenangkan itu hanya insidental. Para penjaja misalnya bisa dibina dengan training bagaimana harus bersikap sopan, supaya tercipta kenyamanan.Harus menjadi kesadaran bersama bahwa satu kekecewaan dibawa pulang oleh wisatawan asing, akan menjadi promosi negatif yang langsung akan menyebar dengan cepat pula. Kalau sudah begitu, segala upaya kantor-kantor perwakilan untuk menarik wisatawan asing bisa tereduksi efektifitasnya. "Kami ingin berlibur dengan nyaman. Kalau mau cari susah di negeri sendiri pun bisa, mengapa harus jauh-jauh ke Bali?" demikian ungkapan yang sempat terekam. Sebuah ungkapan yang perlu direnungkan. (es/es)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads