5 Seniman Kesayangan Bung Karno Diberi Penghargaan
Rabu, 30 Mei 2007 23:21 WIB
Jakarta - Lima seniman kesayangan Bung Karno dianugerahi penghargaan khusus oleh kaum nasionalis di Solo. Mereka dinilai banyak memberi ilham bagi sang Proklamator dalam memperjuangkan nasib bangsanya.Mereka adalah almarhum Ki Wasitodipuro (empu karawitan asal Yogyakarta), almarhum Ki Nartosabdo (dalang dan empu karawitan asal Klaten), almarhum Ki Nyoto Carito (dalang asal Klaten), almarhum Ki Rusman Harjowibagso (seniman tari asal Solo) dan almarhum Ki Maridi Tondodipuro (empu tari asal Solo).Kelima seniman itu adalah para musisi dan penari tradisional Jawa yang semasa hidupnya sangat dekat dengan Bung Karno. Mereka juga sering diundang Bung Karno ke istana negara untuk menggelar pertunjukan.Ki Tjokro Wasitodipuro adalah empu karawitan yang namanya telah mendunia. Pada tahun 1961 Bung Karno pernah secara khusus meminta kepadanya agar membuat gendhing (lagu dalam karawitan Jawa) untuk menggugah semangat rakyat agar bangkit merebut kembali Irian Barat.Demikian juga dengan Ki Nartosabdo, yang beberapa kali telah dimintai oleh Bung Karno untuk menggubah gendhing khusus yang bernafaskan nasionalisme. Bung Karno juga sangat mengagumi gaya pementasan wayang yang disampaikan Ki Narto.Penghargaan itu diberikan oleh Komunitas Nasionalis Masyarakat Surakarta pada acara mengenang Bung Karno di Pendopo Balaikota Surakarta, Rabu (30/5/2007) malam. Penghargaan diberikan oleh mantan Presiden Megawati Soekarnoputri kepada keluarga masing-masing.Dalam sambutannya, atas nama keluarga Bung Karno, Megawati mengatakan Bung Karno adalah sosok yang sangat mencintai seni dan budaya. Sebagai pemimpin politik besar, kata Megawati, Bung Karno banyak terilhami dari karya-karya seniman besar."Dulu Bapak sering mengajak kami datang ke kantor Lokananta di Solo ini untuk mendengarkan musik-musik yang direkam di sana," kenang Megawati. Lokananta adalah sebuah perusahaan rekaman milik negara yang berada di Solo dan sekarang sudah ditutup.Megawati juga menyayangkan minat anak-anak muda terhadap seni tradisi yang mulai terkikis. "Padahal di luar negeri, saya sering melihat seperangkat gamelan lengkap dimainkan orang-orang berhidung mancung. Menurut mereka, cara memainkan gamelan Jawa sangat khas dan tidak ada duanya," lanjutnya.Usai pemberian penghargaan, acara dilanjutkan dengan pergelaran karawitan dengan menampilkan gendhing-gendhing karya Ki Wasitodipuro dan Ki Nartosabdo.
(mbr/aba)











































