Rawan Konflik, Natuna Perlu Satu Skuadron Pesawat Tempur
Rabu, 30 Mei 2007 19:24 WIB
Natuna - Pulau terluar di wilayah Kepulauan Natuna, Kepulauan Riau, memerlukan pengamanan yang lebih besar dan armada Tempur. Soalnya, wilayah yang berbatasan dengan Laut Cina Selatan ini rawan konflik."Kepulauan Natuna merupakan penanda utama perbatasan dengan tiga wilayah negara tetangga," Kata Komandan Pangkalan Udara (Lanud) Ranai, Kepulauan Natuna, Letnan Kolonel Tyas Nur Adi di Lanud Ranai, Pulau Natuna Besar, Rabu (30/5/2007).Menurut Tyas, wilayah Natuna berbatasan langsung dengan Laut Cina Selatan, Vietnam, Kamboja dan Malaysia. "Karena itu kami memerlukan dukungan pesawat tempur, untuk mengantisipasi berbagai ancaman dari luar. Sebagai pangkalan udara terluar yang berbatasan dengan negara lain, kita memerlukan dukungan pesawat tempur itu," jelasnya.Ditambahkan Tyas, pengamanan pulau terluar di Kepulauan Natuna sangat penting, mengingat ada sekitar 12 pulau yang kosong tidak ada penduduknya. Sehingga pengamanan juga dibutuhkan mencegah wilayah Indonesia tidak hilang dicaplok.Kedua 12 pulau itu - yang paling dekat Laut Cina - adalah Pulau Sekatung yang tidak dihuni. Juga Pulau Tokong Boro, Semiun, Sebetul, Senua, Kepala, Tokong Malang Biru, Damar, Mangkai Tokong Nanas dan Tokong Berlayar. Sementara, Pulau Subi Kecil dihuni penduduk sebanyak 2.405 jiwa.Menurut Tyas, persoalan sering muncul di Sekatung yang berbatasan dengan Vietnam, sejak ada perjanjian antara Indonesia dengan Vietnam. Namun Vietnam belum meratifikasi ZEE, sehingga di kawasan ini sering terjadi illegal fishing yang dilakukan nelayan Vietnam dan Thailand.Untuk itu, lanjut Tyas, sudah selayaknya Lanud Ranai dilengkapi dengan satu skuadron pesawat tempur untuk mengantisipasi segala bentuk ancaman. Apalagi, rata-rata terdapat 150 hingga 175 pesawat per hari dari berbagai jenis yang melintas di Ranai."Bahkan, di wilayah utara terdapat konflik di Spratly yang dikhawatirkan akan berdampak ke wilayah RI. Wajar jika Lanud Ranai dilengkapi dengan beberapa pesawat tempur untuk menghadapi ancaman tersebut," tandas Tyas.Menanggapi itu, Kepala Staf Komando Operasi (Koopsau) I, Marsekal Pertama TNI Djohan Basyar mengatakan, permintaan itu hingga kini belum bisa dipenuhi. Tapi, sementara dukungan pesawat tempur masih dari Lanud Supadio, Pontianak, dan Lanud Pekanbaru, Riau."Kita tidak mengabaikan itu, hanya saja untuk sementara kita BKO-kan dulu pesawat-pesawat tempur dari Supadio dan Pekanbaru, jika ada suatu misi di Ranai," kata Djohan.
(zal/aba)











































