Korban Luapan Lumpur Ancam Golput pada Pilpres 2009
Selasa, 29 Mei 2007 14:47 WIB
Surabaya - Peringatan satu tahun semburan lumpur Lapindo menarik perhatian para tokoh-tokoh nasional. Refleksi 1 tahun lumpur yang digelar di penampungan pengungsi di Pasar Baru Porong (PBP) dihadiri sejumlah tokoh dari Barisan Nasional, Forum Peduli Masyarakat Jatim dan Forum Indonesia Adil.Refleksi 1 tahun lumpur yang dihadiri sejumlah tokoh seperti mantan cawapres Sholahudin Wahid, mantan Gubernur Jatim M Noer, Kemal Idris, Kharis Suhud, mantan Menteri Pertambangan Soebroto dan ahli ekonomi dari Surabaya Tjuk Sukiadi mendesak agar pemerintah untuk lebih tanggap dalam memyelesaikan permasalahan lumpur yang sudah satu tahun tidak kunjung berakhir.Di hadapan para pengungsi, para tokoh ini berjanji akan secepatnya menyampaikan keluhan dan tuntutan korban lumpur kepada Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), meski sebenarnya pemerintah sudah tahu aspirasi warga saat ini."Aspirasi warga secepatnya akan kita sampaikan ke Presiden," kata Tokoh Barisan Nasional Sholahudin Wahid dalam dialognya dengan warga pengungsi di Pasar Baru Porong, Sidoarjo, Selasa (29/5/2007).Menurutnya, meski tanpa diberitahu, sebenarnya pemerintah sudah tahu aspirasi warga. "Pemerintah itu kurang tanggap. Saya khawatir nantinya rakyat bisa hidup tanpa negara dan bisa menjadi anarkis," ungkapnya.Sementara warga di depan para tokoh nasional mengancam akan melakukan Golput pada pemilu 2009 mendatang apabila pemerintah tidak secepatnya menyelesaikan kasus lumpur yang sudah membuat warga Porong menderita."Pemilu mendatang kita akan Golput. Karena pemerintah tidak tanggap dengan aspirasi masyarakat korban lumpur," ancam Imam, salah seorang warga korban lumpur dari Desa Kedung Bendo Kec Tanggungalin.Mendengar ancamam golput, Gus Sholah berharap agar warga memikirkan kembali keputusan tersebut. Sebab menurutnya Pemilu merupakan keputusan rakyat untuk memilih siapa pemimpin yang dikehendakinya. "Saya berharap nantinya tidak ada Golput. Jadi gunakanlah hak suara itu sebaik mungkin," pinta adik Gus Dur ini dengan suara datar.Namun apabila wacana Golput dari masyarakat korban lumpur terus bergulir, Gus Sholah tetap menghargai keputusan yang telah dibuat. "Tentunya itu hak warga. Tetapi, kalau nantinya ada pemimpin yang lebih baik kenapa tidak?" ujarnya.
(bdh/mar)











































