Komnas HAM Akan Panggil Inu Klarifikasi IPDN Undercover

Komnas HAM Akan Panggil Inu Klarifikasi IPDN Undercover

- detikNews
Senin, 28 Mei 2007 16:35 WIB
Jakarta - Komnas HAM akan memanggil Dosen IPDN Inu Kencana untuk mengklarifikasi buku "IPDN Undercover" terkait kasus dugaan pelecehan agama di IPDN."Kami akan laporkan ke sidang paripurna Komnas HAM. Kami juga meminta dan mengundang Pak Inu Kencana untuk mengklarifikasi tentang tulisan-tulisannya di buku itu. Secepatnya," kata Ketua Sub Komisi Perlindungan Khusus Komnas HAM Roeswiyati.Hal ini disampaikan Roeswiyati saat menerima dosen, pengasuh dan praja IPDN di kantor Komnas HAM, Jalan Latuharhary, Jakarta Pusat, Senin (28/5/2007).Pertemuan juga dihadiri Forum Silaturahmi Pondok Pesantren Majelis Taklim se-Jawa Barat, dan kuasa hukum IPDN, Muchtar Pakpahan.Meski mengaku belum membaca buku itu, Roeswiyati mengaku sudah paham secara garis besarnya."Kami belum bisa menyatakan bahwa ini ada pelanggaran HAM atau tidak. Karena itu, kami harus melakukan peninjauan, pemantauan dan analisa dari segi hukum, dan HAM-nya," ujarnya.Roeswiyati menyayangkan tulisan-tulisan Inu sebab dapat memecah belah agama. "Ini harus dibuktikan dahulu. Walau kasus ini dilaporkan ke polisi tetapi kasus penistaan dan penghinaan terhadap perempuan, Komnas HAM bisa menanganinya," tutur Roeswiyati yang didampingi anggota Komnas HAM Jayadi.Dalam kesempatan itu, dosen IPDN Endang Tri Setianingsih yang disebut-sebut dalam buku Inu berinisial ET menyampaikan unek-uneknya"Saya sangat terpojok. Awalnya saya tidak tahu apa yang ditulis dalam buku itu. Kami sempat dikumpulkan oleh pihak kampus tentang nama-nama yang berinisial ET seperti yang disebut dalam halaman 218," kata Endang."Saya bersumpah di atas Al Quran tidak melakukan itu. Apa buktinya Pak Inu menulis itu, saya mohon perlindungan," lanjut perempuan berkerudung itu.Alumni IPDN angkatan ke XIV dari Yogyakarta Erlin Trisnawati mengatakan, Inu sering menggeneralisir kaum perempuan di IPDN bermoral tidak baik."Selama perkuliahan kami selalu disamakan bahwa kami tidak baik sebagai perempuan ini juga berimbas pada kehidupan saat kami bekerja dan bermasyarakat," kata Erlin. (aan/umi)


Berita Terkait