Dor ! Penembak Briptu Baharuddin Tewas Ditembak
Minggu, 27 Mei 2007 20:04 WIB
Jakarta - Upaya Ismail (33) untuk bersembunyi dari kejaran polisi akhirnya berakhir tragis. Dua buah timah panas menembus paha dan pinggul kanannya. Dan otak pelaku pembunuh Briptu Baharuddin ini pun kemudian menghembuskan nafas terakhirnya.Peristiwa penyergapan Ismail dilakukan tim dari Resmob Polda Metro Jaya dan Polsek Sekampung di sebuah gubuk di ladang jagung, di dekat Sungai Way Sekampung, Desa Gunung Raya, Kecamatan Marga Sekampung, Lampung Timur, pada pukul 02.30 WIB, Sabtu 26 Mei 2007.Untuk menghindari kebocoran operasi penangkapan Ismail, satu tim bergerak dengan menggunakan truk dan turun di Dusun Sidomono yang kemudian dilanjutkan dengan berjalan kaki sejauh 4 Km, menembus ladang jagung. Sedangkan tim lainnya turun di Desa Jembrana dan bergerak menjaga di sisi sungai."Tapi saat kita sergap, tersangka Ismail belum tertidur dan meloncat kearah sungai. Dia sudah kita perintahkan untuk berhenti tetapi dia tidak menghiraukannya," kata Direktur Reserse Kriminal Umum Polda Metro Jaya, Kombes Pol Carlo B Tewu, saat dihubungi wartawan, Minggu (27/5/2007).Ismail diketahui mencoba melarikan diri dengan mencoba menyebrangi Sungai Way Sekampung. Tembakan peringatan pun sempat dilakukan polisi, namun Ismail malah berbuat nekad. "Dia malah membalas dengan memuntahkan peluru dari senjata rakitan yang dipegangnya," imbuh Carlo.Akhirnya polisi membalas dengan menembakkan timah panas. Tak lama Ismail pun roboh. Selain senjata rakitan, polisi juga menyita sebilah golok. "Segera kita bawa dia ke RS Abdul Muluk, tapi keburu meninggal dunia," jelas Carlo.Polisi mengetahui keberadaan Ismail setelah sebelumnya menangkap Rosyid, rekannya. Dari mulut kawannya itulah polisi kemudian mampu mengungkap keberadaan Ismail. Kedua tersangka itu diketahui pada Senin 14 Mei 2007 dipergoki Briptu Baharuddin (almarhum dinaikkan pangkatnya menjadi Bripka) sedang melakukan aksi pencurian motor di daerah Narogong. Kedua tersangka itu pun lalu menembak Briptu Baharuddin, hingga tewas.
(ndr/fiq)











































