Isak Tangis Warnai Penyerahan Rekor MURI di IPDN
Jumat, 25 Mei 2007 13:01 WIB
Bandung - Suasana haru mewarnai acara penyerahan rekor "Penulisan sikap dan moral pada kain terpanjang" Museum Rekor Indonesia (MURI) kepada IPDN. Hujan tangis tidak terhindarkan.Curhat di atas kain sepanjang 4,7 km itu diikuti 4.659 praja IPDN.Dalam sambutannya, pendiri MURI, Jaya Suprana, sempat menyentil IPDN yang terkenal karena tradisi kekerasannya.Dia mengaku sudah sejak lama berniat menyerahkan piagam penghargaan rekor MURI pada IPDN sebelum ada peristiwa akbar kali ini."Ya akan beri penghargaan IPDN sebagai perguruan tinggi di Indonesia yang paling banyak diberitakan di dunia. Ya cuma sayang pemberitaannya negatif. Saya merasakan batin Anda yang menjadi bulan-bulanan pemberitaan. Bahkan hingga mencuat wacana pembubaran," tutur Jaya.Dalam acara yang digelar di depan kantor Rektorat IPDN, Jatinangor, Cimahi, Jawa Barat, Jumat (25/5/2007), Jaya menegaskan, tidak setuju dengan wacana pembubaran itu.Jaya menegaskan, rekor yang dicatat di MURI ini merupakan yang terbaik selama ini. Rekor itu dianggap mempunyai makna."Tapi saya tidak tahu apakah ikrar yang kalian tulis ini benar," ujar Jaya.Jaya lalu menunjuk Fahmi Akmal, Wasana Praja (tingkat IV) asal Aceh yang berdiri di barisan depan. "Apa yang kamu tulis tadi?" tanya pria tambun itu.Fahmi kemudian menuturkan, dia menuliskan perasaannya di atas kain itu, terutama terhadap pemberitaan yang selama ini menimpa IPDN."Saya tulis, teruntuk bangsa Indonesia, kami berdiri di sini untuk engkau. Jika engkau minta pengabdian, akan kami berikan jiwa raga kami. Indonesia, berikan kesempatan kepadaku," tuturnya.Pernyataan Fahmi membuat ratusan praja IPDN yang mewakili penyerahan rekor MURI itu dan pejabat rektor, dosen dan pengasuh di institut itu terharu. Mata pejabat Rektor Johannes Kalloh terlihat berkaca-kaca.Keharuan semakin menjadi-jadi ketika Jaya Suprana menunjuk salah satu praja wanita asal Papua, Debora Meyer.Sambil terisak-isak Debora mengatakan, dia berasal dari daerah yang sangat terpencil di Kabupaten Pegunungan Bintang yang merupakan daerah pemekaran di Papua. Dia adalah angkatan pertama dari daerahnya yang menuntut ilmu di IPDN."Saya sadar sebagai bangsa yang besar, Bhineka Tunggal Ika. Kalau pun kami salah, ampuni dan maafkan kami. Tapi tolong hargai kami. Kami ingin jadi partner mahasiswa lain di luar kampus. Jangan korbankan kami dari daerah," ujarnya tersedu-sedu.Setelah itu, Direktur MURI Aylawati menyerahkan plakat rekor MURI kepada Johannes Kalloh.Di sela penyerahan plakat itu, Jaya mengatakan, "Rekor ini saya berani katakan tidak hanya rekor Indonesia, tapi rekor dunia."Rekor ini, imbuh dia, hanya berlaku satu tahun hingga 25 Mei 2008. "Saya akan datang pada tanggal tersebut untuk melihat apakah ikrar yang kalian ungkapkan itu benar atau tidak," ujarnya.Jika ikrar tersebut benar-benar dilaksanakan, rekor itu akan dipegang IPDN untuk selamanya. Namun jika tidak, dengan berat hati, MURI akan mencabut rekor tersebut."Apakah kalian siap?" tanya Jaya. "Siap!" jawab ratusan praja IPDN.
(umi/sss)











































