Tanah Meruya Selatan Betawi Punye
Jumat, 25 Mei 2007 05:54 WIB
Jakarta - "Iya nanti nih bakal nge-bobog (meraup wajah) orang Porta Nigra kalau berani datang ke mari," kata Haji Seno dengan logat betawinya yang kental.Tidak pelak lagi para wartawan yang sedang berkumpul di depan Posko Forum Masyarakat Meruya Selatan (FMMS), Jakarta Barat, pun tergelak mendengarnya.Lalu Pak Haji yang diamanahi sebagai ketua RT 5 RW 6 itu berbincang dengan Sekjen FMMS Johannes dan salah seorang tetangganya. Dialog yang muncul itu penuh dengan dialek Betawi dan sekali lagi mengundang tawa renyah wartawan yang mendengarnya."Wah kita jadi kayak ngeliat lenong nih," celetuk salah satu wartawan sambil tertawa.Ya, Meruya Selatan adalah tanah orang Betawi seperti yang diutarakan Sekjen FMMS Johannes Sandjaja. Menurut pria yang akrab dipanggil Pak Uban itu, orang Betawi adalah orang Cina."Orang Betawi itu siapa? Orang cina. Coba lihat budayanya kan sama, contohnya malam sebelum Imlek pasti orang Betawi gelar pasar malam, terus pakaian pengantinnya juga sama, warna merah terus ada penutup wajah untuk yang perempuan," ujarnya.Johannes tidak menutup kemungkinan bahwa pemilik tanah yang pertama kali di Meruya Selatan adalah orang Cina. Tempo Doeloe, orang Cina membantu Fatahillah mengambil alih Pelabuhan Sunda Kelapa dari tangan Portugis dan mengubah namanya menjadi Jayakarta.Saat Belanda, mengambil alih Jayakarta dan mengubahnya menjadi Batavia, banyak orang Cina yang memilih untuk lari ke hutan-hutan seperti ke Meruya Selatan."Ada yang ke Marunda, ke Meruya, ada juga yang ke Ciputat namanya Betawi Ora. Dikasih nama gitu soalnya kalau ngomong tidak itu ora seperti orang jawa," kisah Johannes.Uniknya, menurut Johannes, tabiat orang Betawi yang tidak gemar merantau berhubungan dengan hal itu. Dulu, jika keluar dari hutan atau kampung akan ditangkap Belanda."Orangtuanya sering bilang, awas loh nanti ada Belanda," katanya. "Rupanya hal ini masih kebawa-bawa sampai sekarang," tambah Johannes lagi.Hingga saat ini, "aroma Betawi" masih kental terasa di Meruya Selatan. Selain logat bahasanya yang kental, ketua RT-nya pun harus Betawi."Kalau di sini ketua RT harus Betawi kalau masih ada orang Betawi di tempat itu," tutur Johannes.
(mly/mly)











































