Kirim Surat Cinta, Salah Satu Santri Kembar Juga Digunduli

Kirim Surat Cinta, Salah Satu Santri Kembar Juga Digunduli

- detikNews
Rabu, 23 Mei 2007 15:37 WIB
Pekanbaru - Kekerasan yang diterima santri kembar di Ponpes Al-Hasanah di Pekanbaru bukan hanya ditampar berulangkali. Salah satu dari mereka ternyata juga digunduli. Semua ini hanya gara-gara mereka ketahuan terlibat cinta monyet.Santri kembar bernama Nanda dan Ninsi yang baru berusia 10 tahun itu, baru saja lima bulan ini dimasukkan orangtuanya di Ponpes Al-Hasanah. Tujuannya, agar kedua anak mereka dapat mendalami ilmu agama. Keduanya sebelumnya merupakan salah satu siswi di SD Negeri di Pekanbaru. Tapi baru saja keduanya lima bulan mengikuti pelajaran di ponpes tersebut, mereka sudah menerima hukuman yang berat. Mereka mengaku ditampat berulangkali hanya karena diduga berpacaran. Tidak hanya itu, pengelola ponpes menggunduli rambut salah satunya. Peristiwa itu terjadi pada 1 April 2007 lalu. Hukuman kasar yang mereka terima awalnya jam 9 malam. Lantas setelah azan subuh, salah satu dari mereka dipaksa buka jilbab. Di pagi buta itu rambut santri yang terurai panjang dicukur habis. "Tapi pihak pesantren setelah kita temui, membantah keterangan si kembar itu. Ponpes mengaku hanya sekedar memotong rambutnya saja dan tidak sampai mencukur habis," kata Ketua Komisi Perlindungan Anak Indonesia Daerah Riau (KPAID), Rosnaniar dalam perbincangan kepada detikcom, Rabu (23/5/2007) di ruang kerjanya Jl Sudirman, Pekanbaru. Lantas mengapa salah satu dari sikembar kini rambutnya botak? Keterangan Ketua Yayasan Ponpes Al-Hasanah, Hasan Nor ke KPAID, bahwa pihak ponpes hanya menjalankan peraturan yang sudah diterapkan di tempat mereka. Salah satunya memotong rambut. "Pihak ponpes mengaku hanya sekadar memotong rambut. Sedangkan penggundulan dilakukan santri mereka sendiri. Hal itu dilakukan santrinya karena melihat bekas pemotongan rambut yang tidak beraturan," kata Rosnaniar mengutip keterangan Hasan Nor. "Apapun alasannya, hukuman dengan cara kekerasan itu akan menimbulkan rasa trauma yang mendalam buat kedua santri itu. Kita tidak setuju hukuman di sekolah dengan cara-cara kekerasan fisik," kata Rosnaniar. Dalam hal ini pihak KPAID Riau akan mengawal kasus ini sampai kepengadilan guna melindungi hak-ahak anak. (cha/djo)


Berita Terkait