Praja dan Dosen IPDN Akan Adukan Inu Kencana ke Polisi
Rabu, 23 Mei 2007 12:59 WIB
Jakarta - Praja dan dosen Institut Pemerintahan Dalam Negeri (IPDN) akan mengadukan Inu Kencana ke Polda Jawa Barat. Mereka merasa dicemarkan nama baiknya atas penerbitan buku IPDN Undercover yang ditulis dosen IPDN itu.Selain akan melaporkan ke Polda Jawa Barat, mereka juga akan mengadukan Inu Kencana ke DPR dan Komnas Perempuan."Akibat berbagai kebohongan yang ditulis dalam buku itu, para praja dan dosen IPDN merasa teraniaya. Saya sudah bertemu dengan dosen, rektor dan praja IPDN, mereka sepakat untuk mengadukan masalah ini," kata Mukhtar Pakpahan, pengacara praja dan dosen IPDN saat dihubungi detikcom, Rabu (23/5/2007).Mukhtar mengatakan, dalam bukunya itu Inu mengggambarkan IPDN sebagai sebuah institusi yang nista dengan berbagai gambaran yang menyeramkan. Misalnya saja, soal freesex, kekerasan, narkoba serta penyalahgunaan jabatan.Mukhtar menjelaskan, dalam buku itu Inu menyebutkan para praja yang terlibat narkoba serta beberapa penelitian yang dinilainya sangat tidak sesuai dengan fakta. "Misalnya disebutkan 90 persen praja IPDN terlibat free sex atau 600 praja perempuan IPDN tidak virgin lagi," ujarnya.Aktivis buruh ini juga menilai buku itu sangat membuat praja khususnya praja perempuan IPDN menderita. "Bagaimana jika mereka di luaran disebut sebagai perempuan bispak (bisa dipakai). Ini stigma yang sangat buruk sekali," ujar Mukhtar.Padahal yang ditulis oleh Inu Kencana adalah sebuah kebohongan, misalnya saja disebutkan dosen bernama Endang disebut dengan dosen pelacur dan menginjak-injak Al-Quran. "Ibu Endang saat ini menderita atas kebohongan itu," ungkapnya.Mukhtar mengaku saat ini pihaknya sudah mendapatkan kuasa dari 550-an praja perempuan IPDN dari total 900 praja perempuan. "Ini memang belum semuanya, karena sebagian praja perempuan banyak yang akan ujian. Mereka takut karena dia (Inu) masih menjadi dosen, pembimbing dan pengasuh mereka," ujar Mukhtar."Makanya saya meminta kepada Rektor IPDN untuk terus memperhatikan masalah ini," kata Mukhtar.
(mar/asy)











































