2 Remaja Aussie Rencanakan Pembantaian di Sekolah

2 Remaja Aussie Rencanakan Pembantaian di Sekolah

- detikNews
Rabu, 23 Mei 2007 12:56 WIB
Sydney - Dua remaja Australia dikabarkan berencana melakukan aksi pembantaian seperti yang pernah terjadi di sekolah AS. Keduanya saat ini berada dalam perawatan ahli jiwa setelah polisi mendatangi mereka.Polisi bertindak setelah kepala sekolah mereka menghubungi aparat. Demikian seperti diberitakan harian Australia, Daily Telegraph dan dilansir kantor berita AFP, Rabu (23/5/2007).Kedua pelajar berusia 16 tahun itu merencanakan pembantaian ala Columbine. Mereka menyusun daftar siswa dan staf sekolah yang akan menjadi target penembakan. Keduanya bahkan membahas rencana mereka dalam sebuah situs obrolan internet.Menurut koran Daily Telegraph, seorang teman sekolah mereka di SMA Crookwell di Goulburn, sekitar 200 kilometer barat daya Sydney, melaporkan hal ini kepada kepala sekolah. Sang kepala sekolah kemudian langsung meneruskan informasi tersebut kepada polisi."Kedua anak laki-laki itu saat ini dalam perawatan ahli jiwa," ujar juru bicara kepolisian Australia.Otoritas Australia harus menyikapi ancaman ini dengan serius. Terlebih lagi setelah peristiwa penembakan brutal di AS belum lama ini."Naif bagi saya jika mengabaikan kemungkinan insiden serupa terjadi di Australia," tegas Wakil Komisioner Kepolisian Australia Andrew Scipione.Peristiwa Columbine dilakukan oleh dua siswa SMA Columbine di Littleton, Colorado, AS. Pelakunya, Eric Harris dan Dylan Klebold, menembak hingga tewas 12 murid dan seorang guru sekolah tersebut sebelum kemudian menembak mati diri mereka sendiri. Penembakan ini terjadi pada 20 April 1999 silam.Sedangkan belum lama ini, dengan pistolnya, mahasiswa asal Korsel, Cho Seung-Hui menebar maut di kampusnya, Virginia Tech dengan menewaskan 33 orang termasuk dirinya sendiri.Australia pun pernah mengalami teror pembantaian pada tahun 1996 silam. Kebrutalan itu dilakukan seorang diri oleh pria bernama Martin Bryant yang menewaskan 35 orang di Port Arthur, Tasmania. Kejadian itu telah mendorong pemerintah Australia memberlakukan aturan ketat pengendalian senjata. (ita/sss)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads