Nelayan Cilincing Resah Hadapi Pukat Harimau Siluman
Selasa, 22 Mei 2007 18:58 WIB
Jakarta - Sudah satu minggu ini, nelayan Cilincing Jakarta Utara resah akibat kehadiran jaring pukat harimau sembunyi-sembunyi alias siluman. Akibat kehadiran pukat harimau yang illegal itu, pendapatan nelayan menurun drastis hingga separuh dari hari-hari biasa. Pukat harimau merupakan jaring ikan terbuat dari kawat besi dengan pengait baja hingga dapat menangkap ikan sampai ke telur-telurnya. "Jaringnya galak. Sekali tebar, ikan kena semua. Kami tidak kebagian. Biasanya melaut sehari dapat satu ton ikan, kini hanya 500 kg," ujar Ahmad (54), Ketua Paguyuban Nelayan Cilincing, di perkampungan nelayan Kaibaru, Jakarta Utara, Selasa (22/52007).Ahmad bersama rekan-rekannya kewalahan menghadapi pukat harimau itu. Karena, jaring pukat harimau dioperasikan menggunakan kapal nelayan biasa yang susah dikenali. Pemilik jaring juga diduga bukan dari nelayan Ciincing, tetapi dari Kalimantan."Kami sendiri susah untuk menunjukkan pelakunya. Itu nelayan dari luar. Hanya saja efeknya ke kami," ucap Ahmad.Kondisi ini diakui oleh Kepala Suku Dinas Peternakan, Perairan dan Kelautan (Kasudin P2K) Jakarta Utara Ryana Falzran saat dihubungi untuk konfirmasi. Pihaknya mengaku kesulitan mengeliminir kehadiran jaring pukat harimau yang dilakukan sembunyi-sembunyi."Kami hanya melakukan teguran ke nelayan agar tidak menggunakan pukat harimau. Kami tidak bisa melakukan tindakan tegas. Sesuai Kepres No. 39 Tahun 1980, pukat harimau dilarang dioperasikan karena dapat merusak ekosistem laut seperti terumbu karang ," ucap Ryana.Keresahan nelayan Cilincing ditanggapi langsung oleh Deprtemen Kelautan dan Perikanan (DKP). Melalui Kepala Pusat Data dan Informasi DKP Saut Hutagalung, DKP menyelidiki kebenaran informasi itu."Pukat harimau di Utara marak. DKP masih menyelidiki. Tim kami sudah disebar untuk memastikan," ujar Saut Hutagalung meninjau perkampungan nelayan Kali Baru, Jakarta Utara siang ini.
(Ari/asy)











































