9 Tahun Soeharto Lengser Keprabon
Senin, 21 Mei 2007 06:12 WIB
Jakarta - Presiden Soeharto tepat pada tanggal 21 Mei 1998 mengundurkan diri sebagai sebagai presiden pada pukul 09.00 WIB. Sejak, itu hingga sembilan tahun ini peritiwa penting ini menjadi tonggak peringatan reformasi di Indonesia.Begitu juga dengan peringatan reformasi yang jatuh pada hari ini, Senin (21/5/2007). Berbagai media massa di Indonesia mengulas peristiwa bersejarah, yang kelam, kalau tidak mau dikatakan berdarah-darah.Berbagai kalangan memperingatinya dengan berbagai ekspresi masing-masing, sebab saksi sejarah memang semua masih hidup. Gerakan reformasi ini memang perlu disyukuri, setidaknya Indonsia jadi lebih terbuka dan demokratis. Namun, keberhasilan gerakan reformasi ini masih menyisakan pekerjaan rumah yang harus diselesaikan pemerintah, khususnya pemerintahan SBY-JK. Pekerjaan rumah itu diantaranya pemulihan ekonomi yang masih belunm pulih akibat porak poranda selama sembilantahun.Begitu juga, sejumlah aksi kekerasan dan pelanggaran HAM yang terjadi pada saat itu. Kasus Trisakti, Semanggi I dan II (TSS), kerusuhan Mei 1998 dan penculikan serta penghilangan aktivis 1997-1998.Setidaknya detikcom mencatat, gerakan reformasi yang dilakukan sejumlah tokoh dan mahasiswa ini berawal dari keterpurukan ekonomi. Januari 1998, masyarakat mulai kesulitan ekonomi akibat kenaikan nilai kurs dollar AS mencapai Rp 17.000 dan bulan Mei 1998 harga BBM meroket sekitar 71 persen.Ketidakmampuan pemerintah yang dipimpin Presiden Soeharto inilah memunculkan gelombang aksi unjuk rasa di sejumlah tempat di Indonesia. Dari persoalan ekonomi menjadi persoalan politik, di mana Presiden Soeharto sudah dianggap tidak layak lagi memimpinnegara ini.Medan merupakan kota pertama yang dilanda kerusuhan besar berkaitan dengan Reformasi. Tanggal 4-7 Mei 1998 pecah kerusuhan di kota ini, mulai dari aksi pembakaran, perusakan dan penjarahan terhadaptoko-toko, bank, pasar, dan kendaraan terjadi selama beberapa hari. Kerusuhan terjadi akibat mahasiswa dan aparat keamanan tidak bisa mengendalikan situsai. Bahkan kerusuhan semakin meluas ke luar kota Medan, seperti Lubuk Pakam Kabupaten Deli Serdang dan kota lainnya. Akibatnya enam orang dilaporkan tewas.Tanggal 8 Mei, aksi unjuk rasa yang berbuntut kerusuhan juga terjadi di Yogyakarta, yang dikenal dengan Peristiwa Gejayen. Aparat keamanan bentrok ketika mencegah para mahasiswa Institut Sain dan Teknologi Akprind, Sekolah Tinggi Teknologi Nasional(STTNAS), Universitas Kristen Duta Wacana (UKDW), Universitas Sanata Dharma (USD) dan IKIP Yogyakarta menuju kampus UGM.Bentrokan demi bentrokan pengunjuk rasa dengan aparat keamanan terus terjadi. Puncaknya, pada tanggal 12 Mei yang dikenal dengan Tragedi Trisakti yang menewaskan 4 mahasiswanya yang tertembus peluru tajam. Selang sehari kemudian, tanggal 13, kerusuhan Mei 1998 di Jakarta pecah, disusul kerusuhan di kota Solo.Saat kejadian, Soeharto saat itu sedang berada di Kairo, Mesir guna menghadiri pertemuan negara-negara berkembang G-15. Saat itu, Soeharto memutuskan untuk kembali ke Jakarta dan sempat menyatakan pengunduran dirinya sebagai Presiden.Tanggal 14 Mei, aksi unjuk rasa terus bergulir dan bertambah besar di seluruh kota-kota di Indonesia. Aksi ini dilakukan dengan cara mengepung dan menduduki gedung DPRD di sejumlah daerah.Tanggal 18 Mei, Ketua MPR Harmoko yang juga Ketua umum Partai Golkar meminta Soeharto untuk turun dari jabatannya sebagai presiden. Panglima ABRI yang saat itu dijabat Jenderal Wiranto menyatakan, statement Harmoko tidak mempunyai dasar hukum. Saat itu, Wiranto justru mengusulkan pembentukan Dewan Reformasi. Pada hari yang sama, ribuan mahasiswa di Jakarta yang mengatasnamakan Forum Komunikasi Senat Mahasiswa Jakarta (FKSMJ), Forum Kota (Forkot), UI, HMI MPO akhirnya menginap dan menduduki gedung DPR/MPR. Keesokan harinya, Soeharto berbicara di TV bahwa dirinya tidak akan mundur dari jabatannya, tapi menjanjikan akan mengadakan pemilu baru. Sejumlah tokoh muslim, yaitu Nurcholish Madjid dan Abdurrahman Wahid diundang bertemu dengan Soeharto.Tanggal 20 Mei, rencana unjuk rasa besar-besaran yang dipimpin Amien Rias batal dilakukan di Monas. Pembatalan ini dilakukan setelah sekitar 80.000 personel TNI dikerahkan ke Monas.Saat itu juga, Harmoko meminta Soeharto untuk mengundurkan diri pada hari Jumat, tanggal 22 Mei. Bila tidak, DPR/MPR terpaksa akan memilih presiden baru. Sekitar 11 menteri Kabinet Pembangunan VI mengundurkan diri, diantaranya Ginandjar Kartasasmita, Menteri perindustrian dan Perdagangan Bob Hasan, dan Gubernur Bank Indonesia Sjahril Sabirin.Melihat kenyataan seperti itu, akhirnya pada tanggal 21 Mei, Soeharto mengumumkan pengunduran dirinya di Istana Presiden. Soeharto saat itu menunjuk wakilnya Habibie sebagai penggantinya.Soeharto mundur selesai persoalan? Ternyata tidak, selain banyak meninggalkan kasus kekerasan saat dan pasca gerakan reformasi. Juga persoalan KKN yang dilakukan keluarga Soeharto dan kroninya belum berhasil dituntaskan pemerintah saat ini.
(zal/bal)











































