Laporan dari Cina
Pembajak di Kota Shanghai
Selasa, 15 Mei 2007 07:43 WIB
Shanghai - Cina dikenal sebagai salah satu surga barang bajakan dunia. Namun begitu di Shanghai, kota terbesar di Cina, barang bajakan dijual secara sembunyi-sembunyi. Jika kedapatan sedang melakukan transaksi, polisi pun tak segan-segan menyita barang yang dibeli.Hal ini jelas berbeda dengan di Indonesia, sebagai negara yang juga ada dalam daftar negara pembajak terbesar. CD bajakan banyak dijumpai di mal-mal dan berbagai pusat keramaian kota. Tidak hanya CD, tas dan jam tangan bermerek terang-terangan aspal digelar di berbagai tempat terbuka.Tidak demikian dengan di Shanghai. Di Jalan Nanjing misalnya, kawasan yang merupakan pusat keramaian terbesar, tidak ada toko yang berani menjual CD bajakan.Namun begitu, bukan berarti tidak ada penjual barang bajakan di Shanghai. Di pusat-pusat keramaian kota ini, penjual barang bajakan biasanya menawarkan jam tangan dan tas bermerek aspal secara sembunyi-sembunyi. Mereka biasanya menawari para pengunjung dengan menyodorkan leaflet berisi gambar barang-barang yang ditawarkan."Tas dan jam tangan bermerek, tas dan jam tangan bermerek," demikian mereka biasa menyapa orang-orang yang lewat sambil menyodorkan leaflet andalannya sebagaimana dilaporkan reporter detikcom Ni Ketut Susrini dari Shanghai.Meski banyak yang mengabaikan tawaran mereka, tak sedikit juga yang tertarik untuk membelinya. Jika berminat, calon konsumen akan diantar ke suatu tempat untuk melihat dan memilih barang. Atau kalau barang yang mereka taksir ada di leaflet, penjual akan mengantarkan barang tersebut ke tempat pembeli.Di Nanjing, penjualan barang bajakan dilakukan secara sembunyi-sembunyi agar tidak ketahuan petugas keamanan. Sebagai pusat keramaian, ruas jalan Nanjing dijaga oleh polisi dan petugas keamanan yang rutin berpatroli siang dan malam. Saat petugas patroli datang, pembeli dan penjual harus menyembunyikan transaksi mereka. Seperti yang terjadi minggu lalu, seorang wanita paruh baya sedang menjual tas palsu kepada seorang wisatawan asing. Saat transaksi rampung, tas pun berpindah tangan, tapi tak lama kemudian petugas patroli mengendus transaksi tersebut dan menghampiri mereka. Wanita penjual langsung menyadari apa yang terjadi dan segera berlari menjauhi petugas dan meninggalkan konsumennya kebingungan sendiri.Polisi lalu menyita tas yang ada di tangan wisatawan asing tersebut. Ribut- ibut pun terjadi antara petugas dengan wisatawan yang tidak terima barang belanjaannya disita. Para penjual tas dan jam tangan bermerek tidak hanya ditemui di jalan Nanjing, tapi juga di berbagai tempat wisata di Shanghai. Model yang ditawarkan beragam, dan sudah pasti meniru model-model tas dan jam tangan bermerek yang aslinya berharga jutaan rupiah. Tas bermerek Prada misalnya, mereka menawarkannya dengan bentuk, warna dan bahan yang sangat mirip dalam keadaan tanpa merek. Harganya sekitar 200-300 yuan. Jika suka pembeli bisa meminta tas tersebut ditempeli merek tanpa tambahan biaya. Haiyaaa...
(nks/nrl)











































