Puluhan Ekor Sapi Mati Mendadak di Kupang

Puluhan Ekor Sapi Mati Mendadak di Kupang

- detikNews
Senin, 14 Mei 2007 13:03 WIB
Kupang - Sekitar 30 ekor sapi milik warga Desa Pitay dan warga Kelurahan Sulamu, Kecamatan Sulamu, Kabupaten Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT) mati mendadak dalam seminggu terakhir. Puluhan sapi itu mati dengan menunjukkan gejala klinis yang sama, seperti tenggorokan membengkak, busa keluar dari lubang hidung dan mulut serta saluran pencernaan mengalami pembusukan dan pergelangan kaki sulit diluruskan. Empat orang tim kesehatan hewan dari Dinas Peternakan NTT yang melakukan observasi langsung di lokasi kejadian mengalami kesulitan untuk mengidentifikasi jenis penyakit yang menyerang lebih dari 5.000 ekor sapi di wilayah itu."Dari hasil pengamatan yang dilakukan, dugaan sementara puluhan ekor sapi tersebut mati karena penyakit ngorok (SE) karena sampel darah sapi yang sakit masih diperiksa di laboratorium kesehatan hewan Kupang," kata Kepala Sub Dinas Kesehatan Hewan Dinas Peternakan NTT, Maria Geong, selaku ketua tim investigasi yang dihubungi di Dusun Oekule, Desa Pitay, Senin (14/5).Menurut dia, secara klinis, gejala umum tampak hampir sama dengan penyakit SE, tetapi karena sebagian besar sapi mati dalam waktu yang hampir bersamaan, maka untuk memastikan penyebabnya masih menunggu hasil analisa laboratorium. Dia berharap, bangkai sapi yang mati tidak dikonsumsi warga karena bisa berakibat fatal bagi kesehatan warga. "Pulau Timor termasuk wilayah endemis antrax sehingga masyarakat harus mewaspadai agar tidak terjadi korban jiwa," kata dia. Beberapa pekan lalu, penyakit antrax menyerang puluhan ekor sapi di Pulau Sumba, menyebabkan lima warga yang mengkonsumsi bangkai ternak yang mati tewas seketika.Kepala Desa Pitay, Albert Tulle, yang dihubungi terpisah mengatakan, puluhan ekor sapi mati mendadak saat mencari makan di padang gembalaan. "Hanya dalam hitungan jam, sapi-sapi yang terserang langsung mati. Masyarakat baru mengetahui kejadian itu setelah menemukan adanya bangkai sapi berhamburan di padang," kata Albert. Selain menewaskan puluhan ekor, ratusan ekor sapi dan babi dilaporkan telah terserang dan dalam kondisi kritis. "Populasi sapi di kedua desa tersebut mencapai 5.000 ekor. Sebagian besar dalam kondisi terancam karena biasanya hidup bergerombol dengan sapi-sapi yang sudah mati," kata dia. Dinas Peternakan NTT, sejak Senin pagi, telah menerjunkan tim khusus yangg bertugas melakukan pengobatan bagi sapi-sapi yang sakit. "Setelah pengobatan selesai dilakukan, maka langkah selanjutnya yakni melakukan vaksinasi bagi ternak sapi, babi, kerbau, kuda maupun kambing yang sehat. Selama masa pengobatan dan vaksinasi, masyarakat dilarang mengantarpulaukan sapi ke daerah lain dan kedua desa itu diisolasi untuk sementara waktu," kata Maria Geong. (asy/nrl)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads