Kisruh Meruya
Sebuah Jalan Bernama Haji Juhri
Senin, 14 Mei 2007 11:15 WIB
Jakarta - Pada tahun 1970-an, saat Meruya, Jakarta Barat belum semetropolis sekarang, Haji Juhri adalah salah satu orang terkaya di daerah itu. Gajinya sebagai pegawai Kelurahan Meruya memang tak seberapa, tapi obyekan-nya sebagai makelar tanah, sungguh luar biasa.Juhri pun menjadi orang terpandang di daerahnya kala itu -- dulu bernama Meruya Udik, kini Meruya Selatan. Dia juga mampu naik haji, hal yang hanya bisa dilakukan orang dengan tingkat ekonomi berlebih. Dia dikenal sebagai bek atau mandor. Dia mengumpulkan surat-surat tanah warga dan menjualnya pada "mereka yang membutuhkan". Dan saking bekennya nama dia, ada sebuah jalan di Meruya yang bernama dirinya, yaitu Haji Juhri. Hingga kini, jalan Haji Juhri masih populer di kalangan warga Meruya. Letaknya tidak jauh dari kampus Universitas Mercu Buana.Kejayaan Haji Juhri mulai rontok setelah dia diperkarakan PT Porta Nigra ke pengadilan pada tahun 1985. Pemicunya, Juhri bersama sejumlah koleganya, menjual kembali puluhan hektar tanah di Meruya yang dijualnya ke PT Porta Nigra kepada pihak lain.Juhri diganjar 1 tahun penjara pada 1985 dan barang bukti mesti dikembalikan ke Porta Nigra. Karena gagal mengembalikan tanah puluhan hektar tersebut, Porta Nigra menggugat Juhri cs secara perdata pada 1996.Tahun 2001, putusan kasasi MA berpihak pada Porta Nigra. Lahan di Meruya harus diserahkan ke perusahaan yang berdiri tahun 1970 itu pada Porta Nigra. Keputusan eksekusi keluar tahun 2007 dan eksekusi diputuskan 21 Mei 2007. Ribuan warga Meruya pun terbeliak.Nada sebal salah satunya memang tertuju pada Haji Juhri, yang memicu ontran-ontran ini. Tapi di mana Juhri saat ini? "Dia sudah pikun," kata seorang warga setempat pada detikcom, akhir pekan lalu.Kini hidup Juhri berbalik 180 derajat dibandingkan era 1970-an. Masa kejayaannya telah redup."Kalau mau nemui dia, percuma. Dia pikun, nggak ingat apa-apa," imbuh warga yang mengaku masih ada hubungan saudara dengan Juhri itu.Pria itu mengaku, pada tahun 1970-an dia adalah orang miskin, sedangkan Juhri orang kaya. Namun dia tidak berani mendekati Juhri karena takut dikira minta-minta. Tapi kini kondisinya berbalik tajam. Juhri tidak sekaya dulu lagi."Anaknya jadi tukang ojek," ujar saudara Juhri tersebut, yang rumahnya menjadi posko forum komunikasi masyarakat Meruya, melawan Porta Nigra, ini.
(nrl/sss)











































