Budayawan: Elit Politik Indonesia Tak Bermoral!
Jumat, 11 Mei 2007 22:59 WIB
Jakarta - Para politisi Indonesia dinilai tidak memiliki etika moral dalam berpolitik. Elit politik selalu melakukan tarik ulur demi kepentingannya dan tidak memperhatikan rakyat."Politik dan politisi tidak menjalankan etika moral dalam berpolitik, yang akhirnya menurunkan harkat dan martabat bangsa ini," kata budayawan Slamet Rahadjo Djarot dalam diskusi Budaya Politik di Hotel Bumi Karsa, Jl Gatot Subroto, Jakarta Selatan, Jumat (11/5/2007).Slamet mengatakan, budaya politik Indonesia sangat carut marut, yang disebabkan adanya budaya pemaksaan yang dilakukan elit politik. Akibatnya, apa yang dilakukan para elit politik tidak lagi sesuai dengan teks proklamasi. Selain itu, lanjut kakak kandung Eros Djarot ini, partai politik dan politisi selalu melakukan tarik-menarik demi kekuasaan. Menurutnya, tidak ada usaha dari politisi dan partai politik untuk mementingkan rakyat."Budaya politik kita disebabkan kefasihan dalam merampok, memaksa dan merampas, budaya politik kita jangan sampai seperti Mpu Gandring dan Ken Arok, yang selalu melakukan berbagai cara untuk mendapatkan keuntungan," ujar Slamet.Di tempat yang sama, Wakil Ketua Umum Partai Demokrat (PD) Achmad Mubarok menambahkan, budaya politik para elit tidak lagi mencerminkan filosofi. "Filosofi politik itu harus dilakukan. Sekarang ini politisi tidak lagi bercermin kepada filosofi tersebut," ungkap Achmad.Banyak politisi dan parpol yang tidak bisa menerima kekalahan dan akan selalu mempermasalahkannya. "Tidak jelas strukturnya, kalau kalah protes. Cara politisi dan parpol tidak enak disaksikan. Terlalu banyak syahwat politiknya karena memikirkan jangka pendek," ujar Achmad.Lantas Achmad mencontohkan kasus di mana DPR mencoba melakukan amandemen UUD 1945 dengan memobilisir dukungan politik beramai-ramai. Tindakan yang diambil DPR itu merupakan cara pragmatis dan tanpa filosofi demi kepentingan sesaat.
(zal/ndr)











































