Dephan-TNI Perang Perompak dengan International Maritim

Dephan-TNI Perang Perompak dengan International Maritim

- detikNews
Kamis, 10 Mei 2007 13:47 WIB
Jakarta - Selat Malaka dikatakan sebagai wilayah hitam yang rawan perompak, Indonesia tak bisa menerimanya mentah-mentah. Indonesia pun menyatakan perang.Namun tentu saja perang yang dimaksud bukanlah dar-der-dor, melainkan perang data dan fakta.Dephan dan TNI akan melayangkan surat kepada Internasional Maritim Bureau (IMB) terkait perbedaan data dan data dan fakta angka jumlah perompakan di Selat Malaka."Kita akan jawab nanti melalui TNI dan Dephan secara resmi. Angka itu sangat menyesatkan, tapi kita terima itu sebagai perang data dan fakta dalam rangka memperkecil daya saing kita," cetus Menhan Juwono Sudarsono usai wisuda sarjana Universitas Pancasila di JCC, Senayan, Jakarta, Kamis (10/5/2007).Hal ini dikatakan Juwono terkait publikasi IMB di Kuala Lumpur, Malaysia, tentang situasi keamanan di Selat Malaka.Pusat Pelaporan Perompakan IMB masih menganggap Selat Malaka sebagai the most dangerous water in the world atau wilayah hitam.Padahal Selat Malaka tidak lagi dinilai paling berbahaya di dunia dengan menurunkan status bahaya dari level 1 ke level 3. Sementara untuk level 1 dipegang oleh perairan Somalia."Kita cek saja. Kalau di Dephan, TNI AL dan Polri juga punya angka lain. Tidak seburuk itulah," ujar Juwono.Dia mengkhawatirkan angka-angka yang dilansir IMB hanya untuk memperlemah daya saing Indonesia, seolah-olah TNI dan Polri tidak mampu melaksanakan penertiban. Padahal angka perompakan pada tahun lalu jauh lebih kecil.Data dari Komando Armada Kawasan Barat (Koarmabar) TNI AL menyebutkan, tahun 2004 angka perompakan 38 kasus, tahun 2005 menurun menjadi 15 kasus, tahun 2006 hanya ada 2 kasus. Untuk tahun 2007 tidak ada kasus yang dikategorikan seperti yang dicatat oleh IMB.Bahkan KSAL Laksamana TNI Slamet Soebijanto menilai data IMB terlalu dibesar-besarkan. Apalagi mengingat Selat Malaka sepanjang 800 km merupakan sea lines of communication terpenting di dunia.Setiap hari ada 146 kapal yang lewat atau 50 ribu kapal per tahunnya, serta 30 persen mengangkut komoditas perdagangan dan 11 juta barel minyak per hari. (sss/nrl)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads