Gizi Buruk Nurul Azizah
Rabu, 09 Mei 2007 19:04 WIB
Jakarta - Tubuh Nurul Azizah (3) terlihat seperti balita umumnya di lingkungannya. Ia masih bisa tersenyum, berlari dan merengek minta permen kepada kakaknya, Nurul Aini (8). Namun, bila memperhatikan perutnya yang buncit dan tulang rusuk yang tidak sama besar antara kiri dan kanan, terlihat bila Azizah mempunyai penyakit yang tersimpan menahun."Ini memang kurang normal. Pertumbuhnnya terhambat. Kata dokter, paru-parunya terganggu. Nafasnya sering sesak," cerita Tusyani (30) bapak Nurul Azizah, sewaktu ditemui di rumahnya di RT 9/01 Kaliabaru, Cilincing, Jakarta Utara, Rabu (9/5/2007). Perubahan itu terlihat sejak enam bulan lalu. Saat itu Azizah mengeluhkan masalah di bagian dada. Lantas, secara rutin, Tusyani membawa Nurul Azizah ke salah satu klinik yang memberikan perawatan gratis."Tapi sebenarnya tak hanya itu. Sejak saya kehilangan pekerjaan karena tempat bekerja saya bangkrut, makanan untuk anak saya kurang. Diberi susu kalau ada yang memberi atau waktu dibawa ke posyandu. Makan-nya pas-pasan. Kadang pakai lauk, tapi sering-seringnya cuma pakai tempe," ujar Tusyani.Harapan mendapatkan penghasilan bertambah menyeruak sejak tiga hari lalu, saat ibu Azizah, Dahliati (25) mulai bekerja sebagai buruh garmen di KBN Cilincing Jakarta Utara. Sementara Tusyani masih menganggur dan hanya mengandalkan kerja serabutan. "Tapi ya itu belum jelas, gajinya berapa sebagai buruh. Tapi ya lumayan daripada nganggur," ucapnya penuh harap.Keluarga miskin itu menumpang di loteng rumah salah satu temannya. Kamarnya sempit, berdinding kardus. Sementara di seberang gubuk itu, terlihat laut Jakarta dengan aroma sampah menusuk tulang dan angin laut kencang berhembus.Untuk mencapai rumah loteng itu, harus melewati gang sempit, bau dan dipenuhi anak kecil. "Ya begini, kondisi kami. Asal bisa hidup, kami masih senang," kata pria asal Indramayu ini menghibur diri.Ketika dikonfirmasi, petugas Posyandu RW 1 di kelurahan itu membenarkan kondisi buruk balita di wilayah Kalibaru. Menurut dia, penyebab kondisi ini karena sanitasi yang buruk, padat penduduk, dan kebersihan lingkungan yang minim."Ada tiga balita lagi yang bernasib sama dengan Azizah. Yang telah mengalami gizi buruk di sini mencapai 13 balita. Kami hanya membantu sebisanya," ujar Trimurti, salah satu petugas Posyandu pada kesempatan serupa.
(Ari/asy)











































