Arman Soal Tangisan, Tinju, dan Sajak Perpisahan
Rabu, 09 Mei 2007 17:30 WIB
Jakarta - Kehilangan jabatan Jaksa Agung ternyata membuat Abdul Rahman Saleh menjadi puitis. Pria yang akrab disapa Arman ini bisa menangis, bersajak bak pujangga, namun bisa juga ingin main tinju.Hal ini dicetuskan dia saat sertijab dengan Jaksa Agung baru Hendarman Supandji di Sasana Bina Karya, Gedung Utama Kejagung, Jl Hasanuddin, Jakarta, Rabu (9/5/2007).Arman menuturkan, bila dia menangis bukan karena kehilangan jabatan. Sebab, setiap kali terharu, dia kerap menangis."Kucing saya kalau mati pun saya menangis. Terharu adalah bagian dari perasaan jaksa yang lembut hati," ujarnya disambut "cieee..." dari para wartawan.Arman juga menyinggung munculnya pendapat yang mempersoalkan proses penghentian dirinya, bertentangan dengan UU 16/2004 tentang Kejaksaan."Saya mau menjelaskan, hitung-hitung membantu tugas-tugas Andi Mallarangeng (Jubir Kepresidenan). Itu hanya perdebatan akademis, serahkan saja pada pakar kalau mau dibetulkan pasal itu. Biarkan Jaksa Agung Hendarman Supandji bekerja dengan tenang," bebernya.Setelah ini mau apa, Pak? "Mau tinju" seloroh Arman sambil mengepalkan tangannya menirukan gaya petinju sambil terkekeh-kekeh.Dia enggan mengatakan apakah akan menempati pos baru sebagai Duta Besar atau tidak. Dia berharap, setelah ini bisa semakin banyak menulis dan membaca buku.Di akhir sertijab, Arman membaca sebuah sajak. "Jiwa di luar hidupnya yang hilang jiwa, kenanglah sayang dengan mesra. Kau kubayangkan di sisiku ada." Oohhh...
(nvt/sss)











































