Abu Gunung Semeru Guyur Malang
Selasa, 08 Mei 2007 17:52 WIB
Malang - Sejak tiga hari terakhir wilayah Malang dan sekitarnya diguyur hujan abu vulkanik. Abu vulkanik berwarna hitam kecoklatan ini merupakan material vulkanik muntahan dari kawah Jonggring Saloka Gunung Semeru."Setiap 20 menit, Gunung Semeru menyemburkan abu vulkanik," kata Koordinator Perlindungan dan Pengendalian Kebakaran Hutan Balai Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS) Tatag Hari di kantornya, Jl Raden Intan Kota Malang, Selasa (8/5/2007). Material abu vuknaik ini, lanjut Tatag, tertiup angin menuju arah barat, sehingga hujan abu mengguyur daerah terdekat gunung Semeru seperti Malang, Pasuruan dan Probolinggo. Hujan abu tidak berbahaya. Meski begitu, warga diminta untuk menggunakan kacamata dan masker saat keluar rumah, guna menghindari terpaan abu vulkanik.Terpaan angin tidak terlalu kuat, sehingga intensitas hujan abu yang dirasakan warga Malang dan sekitarnya tidak setebal biasanya. Hujan abu terjadi pada pagi hingga malam hari hingga mengganggu aktivitas sebagian warga Malang.Meskipun memuntahkan abu vulkanik, kata dia, kondisi ini tidak mempengaruhi aktivitas masyarakat sekitar Gunung Semeru. Sebab, masyarakat setempat menganggap hujan abu sebagai kondisi yang wajar. Aktivitas gunung tertinggi di pulau Jawa ini juga relatif stabil, tetap dalam status waspada. Berdasar pantauan petugas dari Direktorat Vulkanologi, Mitigasi dan Bencana Geologi di pos pengamatan Gunung Sawur Lumajang, tidak teramati adanya aktivitas yang membahayakan. Setiap hari terjadi letupan abu vulkanik di kawah Jonggring Saloka sebanyak 42 kali. Warna asap putih kelabu dengan tekanan gas anrara sedang hingga kuat. Tinggi asap mencapai 300 hingga 600 meter di atas bibir kawah. Tidak ada guguran awan panas yang membahayakan warga sekitar. Petugas juga melakukan pemantauan seismik, yakni melalui seismograf yang berada di Gunung Leker arah timur Gunung Semeru, dan di Besuk Bang arah tenggara Gunung Semeru. Alat ini mampu merekam jenis gempa berupa gempa tektonik jauh, tektonik lokal, vulkanik dangkal, vulkanik dalam, letusan dan guguran.Balai TNBTS juga kembali membuka jalur pendakian ke puncak gunung yang memiliki ketinggian 3.676 meter di atas permukaan laut ini. Jalur pendakian dibuka mulai 18 April 2007, setelah ditutup sejak Januari 2007. "Jalur pendakian dibuka kembali, setelah kondisi cuaca di puncak Mahameru mulai kembali normal," urai dia.
(gik/asy)











































