SBY Masih Abaikan Kesejahteraan Rakyat
Selasa, 08 Mei 2007 09:10 WIB
Jakarta - Reshuffle jilid 2 ini dinilai lebih fokus pada pemberantasan korupsi, ketimbang pada permasalahan kesejahteraan rakyat, yakni pengurangan kemiskinan dan pengangguran. "Reshuffle kali ini kurang fokus pada masalah pengurangan kemiskinan dan pengangguran. Kesannya yang diprioritaskan hanya masalah korupsi," ujar Direktur Eksekutif Soegeng Sarjadi Syndicate, Sukardi Rinakit dalam perbincangannya dengan detikcom, Selasa (8/5/2007).Masalah pemberantasan korupsi, lanjutnya, bukan tidak penting. Namun, bila kemiskinan dan penggangguran tidak ditekan, pemberantasan korupsi akan memberikan sentimen yang negatif dan menjadi boomerang bagi negara."Pengangguran meningkat, kemiskinan meningkat, pemberantasan korupsi juga meningkat. Keluarga koruptor ada yang tidak suka, mereka mendekati sejumlah orang yang lapar dan miskin dan diberikan sejumlah uang, itu bisa digerakkan, bisa membuat kekacauan," ujar Sukardi.Apalagi jika pemberantasan korupsi yang dilakukan cenderung tebang pilih. Yang dituduh melakukan korupsi hanya dari partai tertentu yaitu dari Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) yang menjadi partai oposisi pemerintahan. "Apa mereka nanti tidak mangkel (sakit hati)?" ujarnya.Seharusnya yang direshuffle adalah menteri-menteri di sejumlah pos kesejahteraan rakyat (kesra) dan ekonomi yang tidak berhasil dalam menekan jumlah kemiskinan dan pengangguran. "Kecuali mungkin Sugiharto, itu oke, tapi yang lain kurang fokus," ujarnya.
(nwk/ary)











































