detikPolling
Tak Sabar Rasanya Melihat Buron Koruptor Keluar Sarang
Senin, 07 Mei 2007 16:52 WIB
Jakarta - Perlu 30 tahun negosiasi cukup alot untuk meneken perjanjian ekstradisi RI-Singapura. Hasil detikPolling menunjukkan ada harapan besar buron koruptor bisa diseret dari Negeri Singa itu.Polling dibuka pada 27 April 2007. Pertanyaan yang muncul adalah, "Perjanjian ekstradisi RI-Singapura diteken. Optimistiskah Anda buron koruptor dan aset-asetnya bisa diseret RI dari Singapura?"Ada dua jawaban yang bisa dipilih, yakni "optimistis" dan "pesimistis".Hasil polling hingga Senin (7/5/2007) pukul 16.50 WIB, 8.967 suara telah masuk. Dari total responden, 8.070 suara (90%) memilih optimistis, hanya 897 suara (10%) memilih pesimistis. Selisihnya 80 persen.Banyak koruptor ditengarai kabur dan tinggal di Singapura. Aset-asetnya turut serta hijrah ke negeri surga belanja itu. Bahkan Singapura sampai disebut-sebut sebagai surga koruptornya Indonesia.Namun surga itu seperti tak akan lagi abadi. Perjanjian ekstradisi RI-Singapura diteken di Istana Tampak Siring, Bali, pada 27 April 2007.Kejagung pun membuat daftar koruptor yang berleha-leha di Singapura. Kejagung mencatat ada 12 buron. Sedangkan ICW mencatat ada 17 buron koruptor yang bersarang di Singapura. Jumlah ini diperkirakan bisa bertambah, mengingat ada 40 tersangka korupsi yang menjadi buron.Meski demikian banyak komentar miring seputar penandatanganan perjanjian yang hanya berlaku surut 15 tahun ini.Mulai dari kecurigaan Indonesia membayar Singapura dengan pasir karena Singapura 'haus' perluasan wilayah, tudingan Indonesia berada di bawah kontrol Singapura, dan dugaan Singapura memuluskan ekstradisi karena mengincar kerjasama militer.Indonesia pun diwanti-wanti terhadap akal bulus Singapura. Jangan sampai Indonesia dikadalin Singapura.Namun ternyata banyak juga pihak yang menaruh harapan besar agar perjanjian ini bisa menuntaskan kasus korupsi. Tak sabar rasanya melihat buron koruptor diseret keluar dari sarangnya.Meski demikian polling ini tidak bersifat ilmiah dan hanya mencerminkan opini para pembaca detikcom yang berpartisipasi dalam detikPolling.
(sss/asy)











































