Kepastian Reshuffle Melegakan, Namun Masih Banyak Komprominya
Senin, 07 Mei 2007 07:04 WIB
Jakarta - Kepastian pergantian menteri Kabinet Indonesia Bersatu terus mengundang sorotan publik. Ada yang menaruh harapan, ada pula yang pesimis tidak mendorong perubahan signifikan.Hal ini dinyatakan oleh Direktur The Lead Institute Universitas Paramadina Bima Arya Sugiarto dalam perbincangan dengan detikcom, Senin, (7/5/2007)."Jika melihat pergantian menteri Menkum dan HAM Hamid Awaludin dan Mensesneg Yusril Ihza Mahendra, publik layak setuju karena cukup mewakili pandangan publik. Tetapi lihat dulu, apakah Menkokesra Aburizal Bakrie diganti atau tidak, itu menjadi pertanyaan," ucap Bima Arya menimbang pergantian beberapa menteri.Menurutnya, posisi Ical -sapaan akrab Aburizal- menjadi sentral. Lantaran, Ical masih menyimpan kontroversi publik terkait gaya kepemimpinannya, khususunya mengenai penanganan lumpur panas Lapindo. Selain itu, ia melihat beberapa menteri memang layak diganti."Seperti Gus Ipul, karena sudah dianggap bukan representasi partai lagi," papar Arya Bima.Hanya saja, dia masih menyayangkan model rekrutmen para menteri yang menurutnya justru tidak menunjukan kekuatan sistem presidensial. Rekrutmen itu yakni dengan memanggil terlebih dahulu calon menteri dan menteri yang akan digeser ke rumah SBY di Cikeas, Bogor, Jawa Barat. "Yang seperti itu, justru menunjukan kepemimpinan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono tidak kuat. Ia hati-hati, tapi sangat melelahkan. Lebih banyak kompromis, yakni berusaha menyenangkan banyak pihak," tegasnya.
(Ari/nvt)











































