Saat Wartawan Iri Pada Tukang Siomay di Cikeas Bogor
Senin, 07 Mei 2007 01:20 WIB
Bogor - Tudingan bahwa status wartawan bisa membuat seseorang bebas mengakses banyak tempat, tidak sepenuhnya benar. Yang sering terjadi di lapangan adalah sebaliknya.Demikian yang berlangsung di kediaman pribadi Presiden SBY di Puri Cikeas Indah, Bogor, Jawa Barat, sejak Kamis 3 Mei hingga Minggu 6 Mei 2007. Akses wartawan di sana justru tidak seleluasa penjual siomay, bakso, tahu sumedang, dan es cendol.Selama meliput detik-detik reshuffle kabinet, wartawan dilarang keras mendekati rumah pribadi SBY yang terdiri dari tiga kavling itu. Baik areal pendopo yangmerupakan ruang tunggu bagi calon menteri, atau rumah utama.Ruang gerak wartawan dibatasi hanya sampai mess paspampres yang persis di sebelum areal pendopo. Di situlah wartawan berkumpul dan di situ pula keterangan pers digelar.Bila ada yang iseng atau pura-pura nyasar melewati batas imajiner itu mendekati areal rumah, maka pasti suara baritone Pak Danplek (komandan komplek) langsung menggelegar."Mas, mbak tolong mundur. Batasnya sampai di situ saja ya," ujarnya sambil menunjuk batas yang dia maksud dengan pesawat HT yang digenggamnya.Hal serupa tidak dialami para penjual makanan kecil yang lalu lalang di sana. Paspampres tidak ada yang melarang mereka melewati batas dan melintasi kediaman Presiden SBY. Padahal di gerobak dagangannya juga tidak ada stiker pass masuk Puri Cikeas Indah.Bahkan serombongan anak-anak warga setempat bebas lewat sambil bermain sepak bola.Tapi sebenarnya itu tidak terlalu jadi masalah. Sisi baiknya, wartawan pun bisa jajan ke para pedagang itu. Andai mereka juga dilarang lewat, betapa laparnya....
(lh/nvt)











































