Mahathir Mohamad Dapat Honoris Causa dari Unsyiah
Kamis, 03 Mei 2007 18:10 WIB
Banda Aceh - Mantan PM Malaysia, Mahathir Mohamad, mendapat gelar Doktor Honoris Causa (Hc) dari Universitas Syiah Kuala (Unsyiah), Banda Aceh, Kamis (3/05/2007). Pemberian gelar ini karena Mahathir dinilai meletakkan fondasi pembangunan ekonomi Malaysia.Pemberian Doktor Hc ini adalah yang pertama dilakukan universitas yang kini berusia 46 tahun itu. Pemberian dilakukan di gedung pusat kegiatan akademik Dayan Dawod di Universitas Syiahkuala, Banda Aceh.Dalam sambutannya, Rektor Universitas Syiah Kuala, Dr.Darni Daud,MA, mengatakan, selama 22 tahun sebagai perdana menteri, Mahathir telah membawa Malaysia ke persada kecemerlangan. Salah satu kebijakan yang diawal dinilai controversial adalah penswastaan negara demi mengurangi pembelanjaan oleh pihak pemerintah di samping pemberian pelayanan yang lebih baik. "Walau ada pihak yang mempersoalkan kebijakan ini, disebabkan terdapat tuduhan berlaku sikap pilh kasih terhadap perusahaan yang ditawarkan pemerintah, namun cukup banyak yang dapat menikmati hasil yang lebih baik dari kebijakan ini. Kebijakan ini juga membawa perubahan yang mendasar," ujarnya sembari menambahkan perubahan yang mendasar tersebut khususnya di bidang teknologi. Mahathir sendiri mengatakan, anugerah yang diberikan unversitas negara jiran ini kepadanya amat bermakna. Karena menjadi simbol persahabatan di antara kedua negara. Apalagi, Aceh dan Malaysia memiliki sejarah yang rapat. "Saya lahir dan membesar di Kedah, dan ramai orang dari Aceh tingga di Kedah," katanya di awal sambutannya. Disebutkannya, anak Aceh yang terkenal di Malaysia ialah seniman kondang P Ramlee. Seniman asal Aceh ini menjadi kebanggan Malaysia . "Tak ada seniman lain yang boleh tanding P Ramlee atau Ramli Nyak Puteh ini," ungkapnya. Menyinggung tahap rehabilitasi dan rekonstruksi Aceh, Mahathir menilai sudah dapat pulih berkat kerjasama antar bangsa.Ditambah lagi, Aceh telah mendapat otonomi. "Saya percaya, tajuk syarahan yang dipilih untuk saya ada kaitan dengan keinginan Aceh untuk bangunkan provinsi ini," ujarnya. Ditambahkannya, bangsa yang maju ialah bangsa yang memilii ilmu dan kecakapan yang dapat mengatasi kelemahan dan kekurangan di negaranya. Meski banyak sumber daya alam tetapi tidak mentadbir dengan baik, suatu negara tidak akan berjaya, sebut dia. Tak hanya itu, dalam pidatonya, dia uga berpesan agar budaya konservatif perlu dikikis dan diganti dengan budaya progrsif yang selalu ingin memperbaiki yang yang sudah baik. Untuk itu, dia berharap, agar budaya progresif mejadi sebagian budaya yang harus terus dibudayakan agar sebuah negara dapat maju.
(ray/djo)











































