Gara-gara Main Bola, Guru Pukul Murid
Rabu, 02 Mei 2007 20:12 WIB
Jakarta - Peringatan Hari Pendidikan Nasional sedikit ternoda. Gara-gara bermain bola, seorang guru di SMPN 1 Pandak Bantul memukul murid. Pak guru pun dilaporkan ke polisi.Peristiwa pemukulan itu terjadi saat Irmas Atmaji (14) bermain bola saat bukan jam pelajaran olah raga. Siswa kelas dua SMP itu dipukul tiga kali yakni dua kali pipi kiri dan satu kali pipi kanan.Tidak terima anaknya dipukul, orangtua Irmas, Sundari (45) melaporkan kasus itu ke Mapolres Bantul. Sundari melengkapi laporan penyaniayaan dengan hasil visum dari RS Elizabeth, Bantul.Di hadapan petugas kepolisian yang menerima laporan, Sundari mengaku tidak terima atas perlakuan guru olahraga terhadap anaknya. Sebab I. Setelah menerima pengaduan Irmas, dirinya sempat mendatangi kepala sekolah untuk menanyakan masalah tersebut tapi justru disalahkan olah para guru yang ada di sekolah."Mereka mengatakan anak saya nakal selama di sekolah, bahkan saya juga sempat diancam satpam sekolah," kata dia.Kepada wartawan, Kepala Sekolah SMPN 1 Pandak Djaeri mengatakan berdasarkan keterangan beberapa guru yang melihat, peristiwa itu terjadi ketika Irmas bermain sepakbola dihalaman sekolah bersama 6 orang temannya. Karena bukan jam mata pelajaran olah raga untuk kelas Irmas, guru olahraga Subandi langsung memperingatkan dan menegurnya.Namun setelah ada teguran dari Subandi, tiba-tiba Irmas mengumpat sehingga membuatnya emosi. Saat itu Subandi sempat mengejar Irmas sampai masuk ke dalam kelas hingga terjadi kasus pemukulan.Meski sampai sekarang dirinya belum sempat bertemu langsung dengan Subandi. Pihaknya juga sudah menanyakan kepada beberapa orang guru yang melihat peristiwa itu. Dirinya juga sudah menghubungi Subandi melalui ponselnya. Sebab setelah kejadian itu, Subandi langsung ke Fakultas Ilmu Keolahragaan (FIK) Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) untuk melanjutkan studi."Saya kira ini insiden yang spontan saja karena dia emosi. Saya tidak akan menutup-nutupi kasus ini. Kami akan melakukan pembinaan dan melakukan pertemuan untuk menyelesaikan secara kekeluargaan," kata Djaeri.
(bgs/ken)











































