90% Guru Menyetrap Murid, 54% Menghukum Bersihkan WC
Rabu, 02 Mei 2007 17:18 WIB
Jakarta - Anak-anak Indonesia rawan terhadap kekerasan fisik dan seksual. Selain kekerasan dalam rumah tangga, mereka pun menjadi korban kekerasan guru di sekolah.UNICEF berkolaborasi dengan Inter Parliamentary Union (IPU) melansir riset terbaru di Indonesia sepanjang 2006. Datanya cukup mengejutkan.80 Persen guru di Jateng pernah membentak murid dan 55 persen guru pernah menyetrap murid di depan kelas. Di Sulsel, guru mengaku pernah menyetrap (90%), membentak (73%), menghukum membersihkan WC (54%), terhadap murid-murid mereka. Di provinsi Sumut, 90 persen guru mengaku menyetrap murid, dan 80 persen guru mengaku membentak mereka."UNICEF dan IPU meminta anggota parlemen sedunia memperhatikan kekerasan yang terjadi di sekolah," ujar anggota Komisi X DPR Angelina Sondakh usai peluncuran buku panduan parlemen menghapus kekerasan terhadap anak di dalam Sidang ke 116 IPU di Hotel Westin, Nusa Dua, Bali, Rabu (2/5/2007).Menurut Angie --panggilan akrabnya--kekerasan fisik dan seksual terhadap anak sulit terdeteksi. Padahal mereka mengalami itu di rumah, sekolah, lingkungan pergaulan, bahkan oleh aparat penegak hukum."Kita sudah punya UU Perlindungan Anak yang memberi sanksi 15 tahun. Tapi masih ada saja tabu untuk tidak berani berbicara," keluh politisi FPD ini.Mantan Puteri Indonesia ini menegaskan upaya menghentikan kekerasan terhadap anak harus melibatkan konstribusi keluarga, sekolah, LSM dan kepolisian. "Saya mengkritik KPI karena banyak tontonan yang seharusnya tidak beredar," pungkasnya.
(fay/nrl)











































